Connect
To Top

Startup Weekend Fashion: Membangun Kebaruan, Melawan Kecenderungan

Gagasan membangun startup yang melampaui bisnis jual-beli barang mengemuka di acara Startup Weekend Fashion adalah kemajuan juga kebaruan. Menariknya, bukan hanya soal mencari untung yang dikedepankan, juga pentingnya membangun iklim kolaboratif dalam mendorong perkembangan bisnis fashion merek lokal.

Bulan lalu saya mendapatkan tawaran menjadi salah satu mentor dalam acara Startup Weekend Fashion di Bandung. Kesempatan itu saya sambut baik, karena dua hal. Pertama, inisiatif untuk menggelar acara tersebut didasari gagasan kolaborasi. Kedua, rasa ingin tahu terhadap ide-ide yang akan muncul.

Kurang lebih ada 25 orang peserta yang ikut dalam acara tersebut. Sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni baru sekolah bisnis. Hanya tiga orang peserta yang memiliki latar belakang pendidikan fashion. Sisanya berasal dari berbagai latar belakang pendidikan.

Keduapuluh lima orang tersebut lantas dibagi menjadi enam kelompok secara acak. Tugas mereka adalah merumuskan satu bentuk usaha yang menjembatani fashion dengan teknologi digital. Setiap kelompok diberi waktu selama 54 jam untuk merumuskan konsep usaha dan purwarupanya (protoripe).

Setiap kelompok diberi kebebasan mengeluarkan ide dan merumuskan konsep bisnisnya. Keterlibatan para mentor lebih sebagai kawan diskusi yang berperan memberi saran dan kritik dalam proses pematangan gagasan sehingga bisa diterapkan. Keputusan akhir tetap berada di masing-masing kelompok.

Melawan Kecenderungan

Mencermati gagasan yang mereka kemukakan, ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat. Pertama, sebagian besar ide bisnis yang mereka rumuskan adalah layanan jasa (4 kelompok) dalam konteks fashion supply chain. Jasa yang mereka tawarkan umumnya menjembatani pihak-pihak yang terkait dalam proses produksi dan pemasaran fashion untuk mendukung pengembangan bisnis merek-merek lokal.

Kelompok 4 misalnya, merumuskan pengembangan portal yang berfungsi sebagai media penghubung antara desainer, penjahit dan customer. Hubungan bisnis yang hendak mereka kembangkan adalah B2B dan B2C. Gagasan dengan semangat kolaborasi seperti itu diajukan pula oleh kelompok 2, 5 dan 6 yang mengedepankan layanan untuk mendukung pengembangan merek-merek fashion baru dalam aspek produksi dan pemasaran.

Kedua, gagasan yang mengedepankan aspek kolaborasi dan layanan jasa di bidang fashion bisa dikatakan melawan arus startup di Indonesia yang cenderung mengarah ke bisnis ritel dan/atau marketplace. Bobobobo, Berrybenka, Hijup, Odioli, 8Wood, Local Brand, Shopdeca, Love Bonito, Qoo10 adalah beberapa contoh startup ritel. Saya belum menemukan startup Indonesia yang mengarah pada usaha menjawab persoalan di luar masalah penjualan produk fashion.

Salah Satu Aktivitas Peserta Startup Weekend Fashion - Photo by Sadikin Gani

Salah Satu Aktivitas Peserta Startup Weekend Fashion – Foto: Sadikin Gani

Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan berkembangnya jumlah ritel fashion online semakin membuka peluang merek lokal meluaskan pemasarannya. Namun, di sisi lain, hal itu juga dapat menimbulkan bencana jika pertumbuhannya tidak seimbang dengan kemampuan produksi merek-merek lokal. Jika permintaan ritel melebihi penawaran yang diajukan merek-merek lokal, maka yang paling rentan gulung tikar adalah ritel itu sendiri. Apalagi jika level persaingan antarritel masih berputar-putar di seputar penawaran harga rendah dan iming-iming diskon.

Gagasan membangun startup yang melampaui bisnis jual-beli barang seperti yang mengemuka di acara Startup Weekend Fashion memang belum matang. Masih perlu dieksplorasi terus serta diuji kegunaan dan ketepatannya dalam menjawab persoalan. Namun, sebagai sebuah gagasan, apa yang dipikirkan oleh anak-anak muda itu adalah kemajuan sekaligus kebaruan. Mereka sudah dapat mengenali dan menangkap sebagian persoalan besar yang dihadapi sektor bisnis fashion Indonesia di luar soal jual-beli barang. Lebih dari itu, bukan hanya soal bisnis untuk mencari untung yang mereka pikirkan, juga pentingnya membangun iklim kolaboratif antarpihak dalam mendorong perkembangan bisnis fashion merek lokal.

Publikasi tulisan ini didukung oleh Satusatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

  • Fashion Indonesia di Angka 70

    Apakah karena menggunakan kain batik Solo busana model pleated dress ala Givenchy rancangan desainer Indonesia bisa disebut khas Indonesia? Apakah karena...

    Sadikin GaniAugust 15, 2015
  • Fashion, Domain Produksi Budaya Gay

    Fashion sudah menjadi domain produksi budaya kaum gay lebih dari 300 tahun, dan memberi dampak besar terhadap sejarah fashion hingga kini.

    Sadikin GaniAugust 5, 2015
House of Harlow 1960