Connect
To Top

Skandal di Balik Mahalnya Biaya Model

Tiga agen model bergengsi di Inggris (Storm, Premier, dan Models 1) yang menaungi jajaran top model dunia digerebek petugas Competition and Markets Authority atas dugaan melakukan kolusi/persekongkolan dalam penetapan harga.

Pagi hari satuan petugas CMA (Competition and Markets Authority, Inggris) yang berpakaian preman secara dramatis melakukan penggerebekan ke beberapa kantor agen model (models agency). Mereka menyita komputer dan dokumen di kantor-kantor tersebut, serta mewawancarai para pekerjanya. Ini bukan adegan film Hollywood, tapi kejadian sekitar lima hari lalu yang dialami tiga perusahaan penyedia jasa model di Inggris: Storm Models, Premier Model Management, dan Models 1.

Ketiganya adalah perusaan bergengsi yang melahirkan jajaran top model dunia. Storm mengorbitkan Kate Moss dan Cara Delevingne; Models 1 membawahi Yasmin Le Bon dan Erin 0’Connor; sementara Premier menaungi Naomi Campbell, Claudia Schiffer dan Cindy Crawford.

Seperti dilaporkan Mail, ketiga perusahaan tersebut diduga melakukan kolusi dalam menetapkan harga jasa model untuk brand-brand fashion dan ritel-ritel pakaian. Kasusnya sendiri mulai ditangani CMA sejak 24 Maret 2015 (lihat situs CMA). Jika ketiganya terbukti melanggar Chapter I The Competition Act 1998 and/or Article 101 of the Treaty on the Functioning of the European Union, bisa dikenai denda hingga sepuluh persen dari seluruh omset bisnis mereka di seluruh dunia.

Kelimpahan Berkah 

Agen model adalah salah satu perusahaan yang menerima limpahan keuntungan dari kemajuan industri fashion. Sebelum ecommerce berkembang, agen model lebih banyak memberikan jasa untuk kebutuhan foto majalah dan poster kampanye. Kini, permintaan akan jasa model semakin meningkat, lebih intens, dan beragam. Selain untuk kebutuhan majalah cetak dan media konvensional lainnya (old media), juga untuk katalog ecommerce dan kampanye online, baik foto maupun video.

Seperti dikutip oleh Mail, satu sumber menyebutkan, dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan model, ritel-ritel fashion merasa keberatan dengan harga tinggi yang ditetapkan perusahaan-perusahaan penyedia model semacam Storm, Premier dan Models 1. Sebaliknya, perusahaan penyedia model bersikeras, bahwa harga yang mereka tetapkan sesuai dengan kualitas yang mereka berikan.

Dalam jual beli, tawar-menawar dan ketidaksepakatan penjual dan pembeli adalah biasa dan sah. Baru menjadi masalah bila beberapa penjual bersekongkol membentuk kartel untuk menetapkan harga secara sewenang-wenang—melanggar aturan dan ketentuan yang berlaku. Dugaan itulah yang telah menyeret Storm, Premier, dan Models 1 diselidiki aparat penyelenggara negara Inggris.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah sudah ada regulasi yang mengatur itu? Bagaimana pengawasan dan pelaksanaannya? Jika belum, sudah saatnya Indonesia memiliki aturan dan ketentuan yang jelas, termasuk aturan keluar masuknya model-model dari luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Journal

  • Warna Baru Braun Buffel

    Braun Buffel yang identik dengan produk tas bergaya klasik dan berwarna cenderung gelap, kini menghadirkan pilihan warna lebih cerah.

    Christina M. AndersonJune 6, 2015
  • Kolaborasi Balmain dan H&M

    High street brand H&M bekerja sama kembali dengan salah satu rumah mode dunia. Kali ini H&M menggandeng high brand fashion asal Perancis, Balmain. Olivier Rousteing,...

    Christina M. AndersonMay 26, 2015
  • Gaya Glamor dari Cavalli

    Permainan motif cetak yang menjadi ciri khas label Roberto Cavalli kembali dihadirkan untuk koleksi musim panas tahun ini. Rangkaian koleksi tersebut...

    Christina M. AndersonMay 26, 2015
House of Harlow 1960