Connect
To Top

Siti Maemunah: Menyelamatkan Alam & Perempuan

Kecintaannya untuk menjaga habitat alam membawa jalan hidupnya pada dunia yang tak pernah ia bayangkan. Mengikuti passion-nya, ia kini menjadi aktivis lingkungan hidup dan peduli dengan isu-isu perempuan.

Tak mudah mengatur janji temu dengan Siti Maemunah atau yang akrab disapa Mai. Sebagai aktivis yang mengkritisi isu tambang, ia selalu bergerak dari satu daerah ke daerah lain, dari pelosok Kalimantan ke pedalaman NTT, dari Filipina ke Belgia. Membangun karier di JATAM (organisasi non-pemerintah/ornop), ia aktif memperjuangkan kepentingan masyarakat adat terkait dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas pertambangan.

Pecinta Alam

Sejak kuliah di Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Jember, Mai sudah mencintai alam bebas. Ia bergabung di organisasi Mapensa (Mahasiswa Pecinta Alam Semesta). “Taman Nasional Meru Betiri yang terletak di Jember-Banyuwangi adalah kawasan ‘bermain’ saya saat kuliah,” ujar wanita kelahiran 8 Desember 1971. Dari situlah, ia melihat adanya relasi ketergantungan manusia terhadap alam.

Ia dan rekannya mulai resah ketika tahun 1998 ada rencana dibuka pertambangan emas di Meru Betiri. “Padahal keragaman hayati di sana sangat tinggi. Ada berbagai tanaman obat dan pohon langka, bahkan spesies harimau Jawa terakhir,” kenangnya. Ini menjadi ancaman baginya dan kelompok pecinta alam. Apalagi, untuk menciptakan 1 cm tanah subur dibutuhkan waktu 300 tahun. Sejak itulah, ia mempelajari tentang eksploitasi pelanggaran hutan. “Dari sebabnya, siapa korbannya, dan adakah Undang-Undang yang melindungi?” ujar sulung dari 4 bersaudara ini.

Kepeduliannya pada masalah tambang yang merusak lingkungan ini semakin besar. Setelah lulus kuliah tahun 2001, Mai bergabung dengan organisasi non-pemerintah JATAM (Jaringan Advokasi Tambang). “Saya terlibat karena wilayah main saya terancam. Saya butuh kasus penambangan itu disuarakan di tingkat nasional. JATAM membantu saya melakukan advokasi,” jelasnya. Dari JATAM, ia mengetahui bahwa tak hanya kawasan Meru Betiri, ada 150 area hutan di seluruh Indonesia yang juga melanggar Undang-Undang. “Kerja-kerja utama saya menghalangi proses kerusakan hutan oleh perusahaan pertambangan,” jelasnya. Sejak tahun 2003-2010, Mai menjadi koordinator ornop ini.

Ornop ini tak hanya menyoroti masalah pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan, namun juga memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, isu keadilan sosial dan gender. Saat ini, Mai bekerja sebagai pengurus dan peneliti di Sajogyo Institute dan Koordinator Tim Kerja Perempuan dan Tambang (TKPI).

Menurut Mai, dengan adanya kerusakan lingkungan, ruang hidup perempuanlah yang paling terkena dampaknya. “Perempuan butuh air lebih banyak daripada laki-laki, untuk memandikan anak-anak, mencuci, memasak, dan lainnya. Saat menstruasi dan masa nifas perempuan juga butuh banyak air. Jika hutan dirusak, sungai tercemar, sangat berdampak pada ruang hidup perempuan,” paparnya.

Ia bercerita, ada satu masyarakat adat di Kalimantan Selatan, yaitu suku Meratus. Perempuan di sana mengatur kelahiran anak tak perlu pil KB, namun cukup datang ke hutan, memutuskan kapan saatnya punya anak banyak atau tidak. “Dengan hutan dirusak, perempuan jadi punya masalah,” keluh Mai. Ia menilai, sebagai perempuan harus pandai dan berpikir kritis agar memiliki kesadaran untuk mengoreksi kesalahan, seperti pengerusakan hutan.

Rentan Suap dan Teror

Sebagai aktivis, Mai kerap melakukan perjalanan ke berbagai pelosok negeri. Tak jarang ia melakukan advokasi hingga keluar negeri. Hal ini penting karena sebagian besar perusahaan pertambangan adalah milik asing. “Publik harus tahu jika suatu perusahaan akan merusak hutan. Proses advokasi itu mengungkapkan akibat yang ditimbulkan terhadap masyarakat adat yang tinggal di hutan itu,” jelasnya.

Salah satu prestasi yang ia torehkan berkat lobi-lobi yang dilakukannya bersama JATAM adalah pemerintah Indonesia (saat itu dipimpin Presiden Megawati) akhirnya mengesahkan Undang-Undang yang melarang pertambangan terbuka di wilayah hutan lindung. “Dari 150 perusahaan, ada 13 perusahaan besar yang diberi dispensasi penambangan terbuka di hutan,” ujarnya.

Kerja nyata lainnya saat menangani kasus Newmont, Buyat, Sulawesi Utara, tahun 2003-2004. Kasus itu untuk pertama kalinya pemerintah Indonesia menggugat korporasi Amerika Serikat. “Masyarakat sipil membuktikan terjadinya pencemaran. Saya ikut tim terpadu pemerintah. Hasilnya tahun 2004 perusahaan itu ditutup. Kesadaran warga terkait dampak pencemaran mulai tumbuh,” ungkapnya.

Sebagai seorang aktivis, Mai mengaku banyak godaan di lapangan. Ia bercerita pernah mendapat tawaran suap dari sebuah perusahaan yang sedang ia kritisi. “Saya pernah mendapat voucher bernilai lumayan diselipkan dalam cenderamata, lalu kita disuruh tanda tangan,” kenangnya, sambil tertawa. Tentu saja langsung ia kembalikan.

Memang, menurutnya tantangan yang dihadapi di daerah lebih besar daripada aktivis di kota. Ia dan timnya pernah mendapat teror ketika mengawal kasus di persidangan. Rupanya perusahaan yang digugat menyewa pasukan preman untuk mengacaukan sidang.

Selain suap dan teror, Mai juga ‘kenyang’ dengan kecaman yang mengatakan ia tidak waras karena menolak tambang yang akan menggerakkan ekonomi Indonesia. “Saya tak ambil pusing. Saya sampai pada pilihan hidup, bahwa pertambangan rakus lahan dan air, sedangkan pertanian bisa menghidupi banyak orang. Kesadaran itu yang coba saya bagikan ke orang lain,” ujar aktivis yang pernah kursus Metodologi Penelitian Gender di University of East Anglia, Norwich, Inggris itu.

Mai mengaku aktif menulis opini di berbagai media massa. Ia percaya dengan menulis, sebagai seorang aktivis ia bisa mengkomunikasikan apa yang menjadi keresahannya dan menumbuhkan kesadaran orang untuk lebih menghargai alam.

Mai bukan sekadar bicara. Ia memberi contoh nyata apa yang dikatakannya sesuai dengan tindakannya. Selama 15 tahun terakhir ini, ia tidak lagi menggunakan logam sebagai perhiasan dan lebih memilih yang terbuat dari kayu. Menurutnya, apapun pilihan orang, mulai dari makanan, pakaian, hingga perhiasan, orang tersebut ikut andil apakah menjaga atau merusak alam sekitar. “Banyak orang menggunakan barang namun tidak tahu proses barang tersebut dihasilkan. Seperti darimana handphone berasal, apa saja komponennya? Bagaimana cara mendapatkan emas yang ada di dalamnya?” tanyanya. Mai ingin banyak orang memiliki pengetahuan akan hal itu, baru setelahnya muncul kesadaran yang menjadi tanggung jawab pribadi orang tersebut.

Merawat dan Memulihkan

Jika selama bersama JATAM, Mai lebih berurusan dengan hal-hal yang bersifat merusak, seperti pertambangan, kini sebagai peneliti di Sajogyo Institute, ia lebih banyak berkutat pada hal-hal yang bersifat merawat dan memulihkan. “Bagamana kita memahami tenun dan emas? Emas, 75% kegunaannya untuk perhiasan dan investasi. Bicara tenun, yang lahir dari tangan perempuan, berbahan dari alam, mengenakannya berarti merawat dan memulihkan alam. Ada harapan untuk kehidupan lebih baik,” ungkapnya.

Ketika melakukan penelitian di Molo, Timor Tengah Selatan, NTT, ia mendapati adat bahwa perempuan belum boleh menikah jika belum bisa menenun dan laki-laki harus bisa membersihkan kebun. Ciri adat di sana adalah laki-laki dan perempuan wajib menggunakan tenun. Tenun adalah identitas.

Mai mengamati bahwa menenun butuh proses cukup panjang dan waktu terbilang lama, mulai dari menjemur kapas, memisahkan biji dari kapas, mengembangkannya, membentuk kepompong, pemintalan, kemudian menenun dan pewarnaan. “Menenun adalah ekspresi perempuan yang menyelamatkan lingkungan. Kayu untuk alat penenun menggunakan kayu khusus yang sudah tumbang,” ungkap Mai.

Ia mengaku ingin meletakkan kembali potret tenun yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda karena dianggap tidak modern. Menurutnya, menenun adalah sarana reproduksi sosial bagi perempuan. “Malam hari waktu yang istimewa karena perempuan menenun di halaman rumah, terjadi interaksi antara ibu dan anak, perempuan dan tetangga. Ibu akan memasukkan nilai-nilai hidup ke anaknya pada saat seperti itu,” tutur perempuan yang menyimpan keinginan untuk belajar menari ini.

Ketika melakukan penelitian di desa Beskabe, Timor Tengah Selatan, NTT, ia bertemu Milka, seorang perempuan berusia 70 tahun, yang sejak usia 6 tahun sudah mulai memintal dan usia 12 tahun sudah bisa menenun. Anak-anaknya tak bisa menirunya, suaminya tak suka menggunakan tenun yang ia buat. Namun, Milka konsisten untuk terus menenun. Ia meminta kapas dari tetangganya. “Dari sekian banyak perempuan Molo yang masih menenun, koleksi tenun karya mama Milka yang paling banyak,” ujar Mai. Ia merasa bangsa Indonesia perlu berkaca pada perempuan Molo yang masih menjaga identitas, tidak meninggalkan sejarah, dan tidak larut pada modernitas.

Mai mengibaratkan bangsa Indonesia yang saat ini sudah berusia 70 tahun, sama seperti usia Milka. Bedanya, nilai-nilai kebangsaan Indonesia semakin luntur. Ia berharap Indonesia seperti Milka yang terus konsisten melestarikan nilai-nilai adatnya. Ia melihat meski sudah tua, Indonesia belum bisa menjawab permasalahan mendasar seperti kehilangan 5 juta petani yang berganti mata pencaharian. “Kita punya Pancasila tapi tidak ‘hidup’, tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, kita selalu mengejar modernitas, tidak mau kalah dengan negara lain. Namun pilihan yang dilakukan untuk memajukan ekonomi justru merusak lingkungan dalam jangka panjang,” pungkasnya.

1 Comment

  1. Antonius Saputro

    August 24, 2015 at 3:13 pm

    Alam dan manusia adalah dua sisi mata uang tanpa keduanya roda ekonomi tidak akan berjalan, keduanya harus berjalan bersama dan bersinergi tanpa harus saling merusak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Icon

  • Tarian Kehidupan Ratih Soe Kosasie

    Ia menari tango di stage. Ia tidak sekadar menggerakkan tubuh sesuai irama. Ada rasa yang terselip di setiap gerak. Ada jiwa...

    Titik KartitianiJuly 6, 2015
House of Harlow 1960