Connect
To Top

Representasi Perempuan Urban yang Dinamis

Tanpa banyak ornamen, label Austere by Tri Handoko mampu “berbicara” dengan tegas. Simbol sosok perempuan yang aktif, berkarakter kuat, dan berani tampil beda.

Seakan menjawab kebutuhan kaum perempuan karier yang aktif, label ready to wear deluxe Austere hadir sebagai alternatif baru dalam berbusana. Gaya klasik dengan sentuhan modern kontemporer menjadi identitas label ini. “Never change a classic, just refine it,” ujar Tri Handoko, pendiri sekaligus Creative Director Austere.

Estetika Minimalis

Istilah “Austere” sendiri memiliki makna simpel atau sederhana. Sesuai dengan karakter desain Tri yang dikenal simpel, clean, modern, dan identik dengan ciri androgini. Tak heran bila ornamen yang ramai maupun cutting yang rumit sehingga jauh dari kesan praktis, tak akan ditemukan dalam label berkonsep estetika minimalis ini. Searah dengan konsumen yang dituju, yakni perempuan modern dengan karakter yang kuat dan berani menunjukkan karakter dirinya melalui pakaian yang dikenakannya.

Teknik tailoring yang selama ini menjadi kekuatan rancangan Tri ditampilkan dalam potongan konstruktif yang dikemas lebih kasual seperti eksplorasi blazer, suit, shirt dress, dan variasi celana maupun rok. Dengan desain yang clean dan terbebas dari aksentuasi yang berlebihan, sekilas koleksinya memang terkesan biasa saja. Namun, jika diperhatikan lebih dekat akan terlihat teknik tailoring yang mengandalkan pola yang akurat dan kualitas jahitan yang rapi. Seperti yang juga diakui oleh Tri bahwa menerapkan teknik tailoring bukan perkara mudah. Dibutuhkan ketelitian tingkat tinggi karena kesalahan sedikit saja akan terlihat.

Memahami kebutuhan dari segmen pasarnya, label Austere memilih material dengan daya pakai tinggi dan mempertimbangkan sisi fungsional, tanpa mengabaikan kenyamanan pemakainya. Ditunjang dengan penggunaan warna basic dan monokrom yang bersifat timeless sehingga praktis dipakai untuk banyak aktivitas. Sedangkan detailnya lebih menekankan pada olahan material seperti pleats ataupun aksen lain seperti kantong yang diaplikasikan pada tempat yang tak biasa.

Impian Lama

Di penghujung tahun lalu, koleksi perdana Austere dirilis di ajang IPMI Trend Show 2015 yang menjadi bagian dari Bazaar Fashion Festival 2014. Dengan mengusung tema “Porcelain”, koleksi ini terinspirasi porselen yang tampak kuat dan kokoh namun memiliki tekstur yang halus dan fragile. Tema tersebut dituangkan dalam bentuk suit, sweat shirt, jaket, rok pensil, hingga celana lebar. Material yang digunakan berupa katun, semi wool, wool, dan suede sintetis dalam pilihan warna netral seperti hitam, putih, dan abu-abu sehingga praktis dikenakan untuk beragam kegiatan.

Kehadiran Austere mengenapi konsep Trilogy dari dua lini yang telah diluncurkan Tri, yakni label utamanya, Tri Handoko, dan label khusus busana pria, 3. Austere merupakan proyek impian yang telah lama diidamkan oleh lulusan LPTB Susan Budihardjo dan School of Visual Arts, Australia, jurusan Fashion Design ini. Berbekal keberanian dan dukungan dari kerabat terdekatnya, Austere akhirnya berhasil diwujudkan. Ia mengibaratkan Austere sebagai anak kandungnya, yang menurunkan karakter dan kepribadiannya sebagai seorang desainer. “Ini sesuatu yang saya pegang erat-erat dalam hati, proyek yang saya kerjakan dengan penuh ketulusan dan kejujuran. My pure and clean aesthetic, a project of love,” ujar desainer yang telah menggeluti industri fashion sejak tahun 1992 ini. Menetaskan Austere, ia menyebutnya sebagai sebuah pertaruhan namanya sekaligus titik balik atas dedikasinya di ranah fashion.

Sempat ada kekhawatiran karyanya tak diterima oleh konsumen yang disasarnya. Apalagi, mengingat label ini memiliki karakter yang khas sehingga segmen pasarnya pun terbatas. Di luar dugaan, selain diminati oleh pelanggan setianya yang telah loyal dengan rancangannya sejak lama, ternyata label ini mendapat apresiasi positif dari khalayak yang lebih luas. Kondisi tersebut justru menjadi tantangan tersendiri bagi Tri untuk konsisten mengeluarkan koleksi yang berganti setiap 3 bulan sekali, meningkatkan kualitas produk, sekaligus memperluas jaringan distribusinya.

Pada perhelatan Senayan City Fashion Nation Ninth Edition yang berlangsung pertengahan April tahun ini, Austere merilis koleksi kedua bertema “Ronin” yang memperlihatkan kreativitas dalam menawarkan hal baru dari koleksi sebelumnya. Gaya androgini yang menjadi DNA dari label ini tetap dihadirkan, namun kali ini diberi elemen army dan sporty yang diwujudkan dalam serangkaian busana seperti celana baggy, jaket bomber, kulot, jumper, dan shirt dress. Penggunaan materialnya pun menghindari pengulangan. Edisi kedua ini mengolah bahan linen, cotton, neoprene, dan rib yang serba putih dengan detail atraktif seperti lipit, rumbai, kantung, dan potongan asimetris.

Austere diciptakan Tri dengan meresapi apa yang dirasakannya, dilihatnya, dan didengarnya. Baginya, tak ada batasan dalam mencipta. Dengan pengerjaan yang dilakukan sepenuh hati, ia berharap pemakai Austere dapat merasakan pesan yang dialirkannya melalui karyanya. Tak sekadar indah dipandang namun hanya bisa dikenakan oleh manekin, Tri berharap dapat menciptakan karya nyata yang benar-benar wearable sekaligus tetap memperhatikan estetika. Sampai saat ini, belum genap setahun keberadaannya, Austere telah mengeluarkan sekitar 1.000 potong produk dengan harga berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 2,5 juta dan dipasarkan di jaringan The Goods Dept dan Central Department Store.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Trend

  • Kesinambungan Pleats

    Kerumitan yang dimiliki pleats atau aksen lipit tidak menghapus keberadaannya. Justru, tren busana ini terlihat berbaris memenuhi panggung runway Spring/Summer 2015.

    Beri AllenAugust 4, 2015
  • Kisah Kulot

    Kembali muncul di panggung runway, celana kulot kini tengah menjadi sorotan. Kehadirannya bagaikan badai yang mungkin tak akan pernah berlalu.

    Beri AllenJune 17, 2015
  • Demam Denim

    Material denim kembali menguasai panggung mode dunia.

    Christina M. AndersonMay 16, 2015
House of Harlow 1960