Connect
To Top

Regulasi Ecommerce dan Rambu-rambu Belanja di Internet

Maraknya penipuan di internet menjadi perhatian serius banyak pihak. Upaya untuk mengantisipasinya harus terus ditingkatkan, baik dari sisi penguatan teknologi maupun regulasinya.

Beberapa waktu lalu saya dikagetkan oleh sebuah penawaran Macbook Pro baru di salah satu marketplace yang kantornya berbasis di Indonesia. Harga yang ditawarkan tak tanggung-tanggung. 5 dan 7 juta untuk satu unit Macbook Pro yang harga resminya sekitar 18 juta. Tidak masuk akal. Saya yakin ini penipuan. Untuk memastikan saya mengontak si penjual melalui pesan singkat. Hingga detik ini tak pernah ada tanggapan.

Maraknya penipuan di internet menjadi perhatian serius banyak pihak. Upaya untuk mengantisipasinya harus terus ditingkatkan, baik dari sisi penguatan teknologi maupun regulasinya. Salah satu wacana yang memudian muncul adalah sertifikasi terhadap ecommerce sebagaimana yang muncul dalam seminar bertema “Internet & Ecommerce Policy”  beberapa waktu lalu di Jakarta pada 18 Desember 2012 (Bloomberg Business Week, 17-23 Januari 2013) .

Keamanan belanja dan melakukan transaksi daring (dalam jaringan/online) adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun, sebelum melangkah lebih jauh ke soal regulasi, kiranya perlu menjernihkan beberapa hal. Sehingga regulasi yang dibuat benar-benar mengenai sasaran dan tidak melahirkan ambiguitas.

Pertama, perlu terlebih dahulu memperjelas pengertian ecommerce. Ecommerce atau electronic commercial secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai transaksi jual beli di internet. Di dalamnya menyangkut transaksi keuangan (pembayaran daring). Menurut saya, tidak semua kegiatan menjajakan barang di internet dapat disebut ecommerce. Orang yang menampilkan produknya di album foto Facebook, tidak bisa desebut sebagai kegiatan ecommerce. Demikian pula orang yang beriklan di portal listing atau iklan baris gratis. Demikian pula dengan mereka yang menjual barang di halaman blog. Lebih tepat disebut katalog elektronik daripada ecommerce.

Jika kasus penipuan yang terjadi cenderung dialami oleh pengguna yang memeroleh informasi penjualan barang dari iklan baris atau katalog produk di blog dan facebook, tentu menjadi salah sasaran jika regulasi sertifikasi diarahkan pada toko daring yang menjalankan perangkat ecommerce profesional seperti Bhinneka.com. Demikian pula sebaliknya.

Kedua, perlu batasan yang jelas apa yang dimaksud keamanan berbelanja daring. Apakah menyangkut keamanan sistemnya (infrastruktur dan platform ecommerce yang diterapkan), aspek manusianya (penjual maupun pembeli) atau managemennya (aturan dan ketentuan pemakaian yang diterapkan pengelola situs). Untuk menangani kejahatan carding misalnya, akan berbeda dengan penanganan dalam kasus penipuan seperti yang saya kemukakan di awal tulisan ini. Dengan begitu regulasinya pun akan berbeda.

Terkait dengan itu, regulasi pun harus memperhatikan jenis dan tipe situsnya. Regulasi untuk toko daring seperti Bhinneka.com atau Tulisan.com tidak bisa disamakan dengan regulasi untuk portal listing seperti Tokopedia.com atau Berniaga.com. Demikian pula regulasi untuk situs payment gateway berbeda dengan situs forum dan jejaring sosial.

Ketiga, untuk mengantisipasi terjadinya kasus penipuan di internet diperlukan juga upaya serius mengedukasi pengguna internetnya itu sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memberikan rambu-rambu dan informasi yang memadai untuk menghindari penipuan.

Rambu-rambu Belanja di Internet

Agar kita bisa membeli barang yang dijajakan di internet dengan cukup nyaman dan aman, ada beberapa catatan yang mungkin akan berguna sebagai rambu-rambu untuk menghindari penipuan.

Pertama, kenali situs yang menjual barang. Sebaiknya Anda hanya membeli barang dari situs ecommerce yang keberadaannya cukup bisa dipercaya. Untuk tahu itu, Anda bisa googling untuk mencari informasi. Situ-situs semacam itu biasanya memiliki domain sendiri (seperti Bhinneka.com), bukan domain gratisan.

Kedua, jangan percaya pada penjual yang menawarkan harga murah secara ekstrem dibanding harga normal seperti contoh pengalaman yang saya kemukakan di awal.

Ketiga, untuk membeli barang baru sebaiknya Anda berbelanja di situs resmi (retail maupun reseller) penyedia barang yang bersangkutan.

Keempat, Anda harus lebih cermat dan memastikan kebenarannya sebelum membeli barang yang diiklankan di situs-situs listing gratis yang memungkinkan semua orang menggunakan fasilitas tersebut. Kehati-hatian semacam ini berlaku juga jika Anda hendak membeli barang yang banyak dijajakan di media-media sosial.

Nah, mudah-mudahan tips singkat ini berguna menjadi pegangan Anda untuk belanja daring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in E-Biz

  • Bergerak ke Level E-Commerce Berikutnya

    Di Indonesia, kesadaran untuk mengembangkan bisnis melalui ecommerce terus tumbuh meski masih terkendala biaya. Perlu dikembangkan sebuah layanan komprehensif yang dapat...

    Sadikin GaniJuly 27, 2015
  • Say Hi to Fashion E-Commerce

    Fashion adalah salah satu sektor bisnis paling agresif memanfaatkan e-commerce. Dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah dan besarnya transaksi online di sektor...

    Sadikin GaniJuly 10, 2015
House of Harlow 1960