Connect
To Top

Nyatakan Kasih dengan Scarf

Ada banyak cara untuk berbagi kasih dan peduli pada sesama; berbagi empati hingga dorongan semangat. Salah satunya melalui scarf.

The Love Scarf Project

The Love Scarf Project adalah proyek yang bekerja mengumpulkan scarf buatan tangan dan topi untuk disalurkan kepada para penderita kangker di rumah sakit Presbyterian New York, City of Hope, dan Huntsman Cancer Institute. Proyek ini didirikan oleh Bridget Fonger untuk menghormati Robbie Seidman, kawannya yang meninggal karena leukimea di rumah sakit City of Hope pada 2003.

Menurut Fonger, ide untuk membuat proyek itu bermula dari pengalamannya selama menjenguk Seidman di rumah sakit. Selama dirawat, dia banyak menerima kunjungan. Namun, Fonger melihat, tidak demikian dengan pasien lain yang seruangan dengan Seidman. Beberapa pasien bahkan tidak pernah ada yang menjenguk, karena mereka berasal dari tempat yang sangat jauh. “Itu sangat menyedihkan,” kata Fonger.

“Saat menghadapi transplasi sumsum tulang—dan kangker pada umumnya—suhu tubuh pasien penderita kangker mengalami fluktuasi, dan kadang-kadang mereka menjadi sangat kedinginan. Dapatkah Anda bayangkan berada dalam keadaan kedinginan sekaligus kesepian? The Love Scarf Project dirancang agar setiap orang (pasien penderita kangker-ed) memiliki sesuatu yang membuat mereka hangat dan dicintai,” papar Fonger.

The Love Scarf Project kini beroperasi di kawasan Barat dan Timur Amerika. Aktivitas utamanya adalah mendistribusikan scarf dan topi di New York, Los Angeles dan North Carolina.

Threads of Compassion Scarf Project adalah proyek scarf yang dibentuk oleh Threads of Compassion, sebuah kelompok yang bekerja membantu para korban kekerasan seksual, bermarkas di Chicago, Amerika.

Ide scarf project sangat sederhana. Threads of Compassion mengajak siapapun yang pernah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual untuk merajut scarf. Hasilnya kelak akan disumbangkan kepada korban pelecehan dan kekerasan seksual. Dengan cara sederhana itu diharapkan para korban pelecehan seksual dan kekerasan tidak merasa sendiri dan memperoleh dukungan.

Kebanyakan korban menjadi tertutup dan memendam penderitaan yang dialaminya. Rasa takut dan malu menenggelamkan para korban pada keheningan dan keterpencilan. Threads of Compassion didirikan untuk mendobrak keheningan itu. Pemberian scarf pada korban bukan hanya untuk menunjukkan kepedulian, tetapi juga mengekspresikan kesedihan atas apa yang mereka alami.

Mengapa scarf? Menurut S. Sullivan, pendiri Threads of Compassion, karena semua orang bisa mengenakan scarf, dan tidak akan pernah cukup untuk memilikinya. Scarf adalah benda nyata yang bisa dipegang, dililitkan ke leher atau bahu dengan makna yang lebih dalam dari sekadar aksesoris, yang hanya diketahui oleh yang menggunakannya.

“Setiap kali menyentuh benang-benang scarf yang mereka terima, mereka terhubung dengan seseorang yang peduli atas apa yang dialaminya. Sebuah pesan besar disampaikan melalu helaian benang,” ungkap Sullivan.

Kini Threads of Compassion tidak hanya ada di Chicago. Dibentuk juga di New Zealand. Bahkan mereka sudah mendirikan Crisis Counselling Centre untuk para korban pelecehan dan kekerasan seksual.

The Scarf Project to Raise Funds to End Domestic Violence

The Scarf Project to Raise Funds to End Domestic Violence diprakarsai oleh komunitas perajin scarfi di Dupage County, Illinois, Amerika. Upaya tersebut mereka lakukan untuk mendukung program-program Shelter Family Service. Shelter Family Service adalah organisasi nirlaba yang bekerja untuk membantu korban kekerasan dalam rumah tangga, dan memberdayakan potensi mereka. Didirikan 1976 oleh beberapa individu yang merasa prihatin menyaksikan banyaknya pekerja seks komersial di Dupage County akibat kekerasan dalam rumah tangga.

The Scarf Project to Raise Funds to End Domestic Violence dilaksanakan setiap musim liburan akhir tahun, 26 November hingga 31 Desember. “Ini adalah kesempatan baik bagi Anda yang memiliki passion terhadap scarf untuk bekerja. Dengan menghabiskan waktu beberapa jam bersama gulungan benang, Anda dapat membuat bayak kehangatan dan perlindungan. Bukan hanya untuk orang yang membeli scarf Anda, tetapi juga untuk para perempuan dan anak-anak korban kekerasan rumah tangga yang didampingi Shelter Family Service,” kata Janet Schurmeir Avila, pemilik String Theory Yarn Company yang mensponsori The Scarf Project.

Hasil penjualan The Scarf Project seluruhnya disumbangkan kepada Shelter Family Service yang telah membantu perempuan dan anak-anak korban kekerasan rumah tangga selama lebih dari 34 tahun. Mereka menyediakan tempat penampungan sementara, perumahan dan konseling, serta membantu membangun kembali kehidupan para korban dengan potensi yang mereka miliki.

Bagaimana di Indonesia? Apa yang bisa kita perbuat dengan scarf?

Keterangan: Tulisan ini merupakan revisi atas tulisan dengan judul dan penulis yang sama, dimuat Time to Scarf (sudah tidak aktif), 01 Januari 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

  • Crowdfunding: Konsep Lama, Istilah Baru

    Urung rembug dana, mulai untuk pembiayaan usaha, bikin film, hingga sekadar aksi sosial.

    Monique SoemardiJuly 29, 2015
  • Bekerja Tanpa Batas

    Sistem bekerja jarak jauh seakan menjadi solusi di tengah kemacetan yang masih menguasai jalan di kota-kota besar.

    Laili DamayantiJuly 16, 2015
House of Harlow 1960