Connect
To Top

Mengingat Sejarah Banda Neira

Banda Neira, kepulauan kecil di tengah laut Banda, Maluku. Dari ribuan tempat wisata di Indonesia, inilah satu tempat yang menyajikan keindahan alam, gunung sekaligus pemandangan bawah laut yang sangat memesona. Penduduknya yang ramah, membuat saya betah berlama-lama di sana.

“Hei, su bale lagi ke Banda? Nanti malam mampir ke rumah, ya. Sa buatkan kopi jahe kopi lagi,” kata seorang ibu yang berteriak kepada saya di keramaian pasar Banda Neira. Saya mengacungkan jempol tanda mengiyakan. Sungguh tak mengira, ibu pemilik warung masih ingat pada saya, yang datang ke sana setahun yang lalu.

Banda Neira adalah ibukota kepulauan Banda, kepulauan kecil di tengah laut Banda, Maluku. Terdiri dari beberapa pulau, ditandai dengan sebuah gunung aktif yang seakan-akan mencuat keluar dari lautan. Dari ribuan tempat wisata di Indonesia, inilah satu tempat yang menyajikan keindahan alam, gunung sekaligus pemandangan bawah laut yang sangat memesona. Penduduknya yang ramah, membuat saya betah berlama-lama di sana. Sayangnya, kepulaun ini seakan terlupakan dari peta Indonesia. Padahal keberadaannya mengubah sejarah dunia.

Dihiasi Sejarah Kelam

Sebelum berkeliling ke tempat-tempat menarik di sana, disarankan Anda terlebih dahulu berkunjung ke Rumah Budaya. Sebuah rumah yang dijadikan museum sederhana, tempat koleksi beragam benda bersejarah, mulai dari koin kuno, kain batik, miniatur perahu kora-kora, perlengkapan prajurit cakalele, hingga lonceng besi peninggalan sebuah perek (perkenier atau perkebunan). Semuanya bisa menjadi gambaran awal, tempat seperti apakah Banda Neira ini.

 Sebagian besar barang-barang di museum ini adalah koleksi Alm. Des Alwi –diplomat, politikus, sejarawan, dan putra Banda. Di museum ini juga masih tersimpan sebuah gramofon yang terawat baik. Saat piringan hitamnya diputar, suara perempuan menyanyikan lagu berbahasa Belanda pun melantun merdu.

Sebuah lukisan yang terletak di pojok ruangan cukup menarik perhatian. Menggambarkan salah satu peristiwa paling menyedihkan pada 1621. Saat 44 orang kaya (bangsawan) Banda dihukum penggal kepala oleh para Ronin atas perintah Jan Pieterzoen Coon. Orang-orang kaya tersebut dinyatakan bersalah karena tak mengakui hak monopoli perdagangan VOC, dan masih menjual buah pala kepada para pedagang Inggris.

Pelaksanaan hukuman dilakukan di Benteng Nassau. Sisa-sisa dinding benteng masih berdiri mengelilingi lapangan luas. Bangunan bentengnya sendiri sudah tak bersisa. Tak jauh dari benteng, ada sebuah sumur dengan sebuah rantai tergantung membentang. Parigi rantai memang bukan sumur biasa, di tempat inilah 44 orang kaya diberi kesempatan terakhir untuk ber-wudlu dan membersihkan diri sebelum dieksuksi.

Sementara benteng Belgica yang dibangun pada 1611 masih utuh dan berdiri kokoh di atas bukit. Dari atas benteng pertahanan berbentuk segi lima dengan bastion di setiap ujung sudutnya ini, Anda bisa menikmati pemandangan kota Banda Neira, pulau Banda Besar, dan Gunung Api yang menjulang di seberang.

Sisa kejayaan VOC masih cukup banyak tersisa. Seperti meriam yang banyak bergeletakan di pinggir jalan.

Rumah bergaya kolonial masih bisa ditemui di kota kecil ini. Banyak bangunan yang terabaikan, tidak ditempati. Istana Mini, salah satu bangunan yang dirawat dengan baik. Bentuk rumah bekas kediaman Gubernur Jenderal VOC ini konon yang mengilhami bentuk kantor Gubernur Jenderal VOC di Batavia, yang kini kita kenal dengan Istana Negara.

Begitu pula bangunana Gereja Tua, Hollandische Kerk yang dibangun pada 1600-an yang sempat runtuh karena gempa bumi. Pada 1852 dibangun kembali dengan lantai yang tersusun dari 24 nisan granit berhias nama dan lambang keluarga ternama atau bangsawan, tergantunng siapa yang dikubur di bawahnya.

Menghirup Harum Rempah

Pada abad 15, rempah-rempah menjadi barang berharga dengan harga sangat tinggi di Eropa. Dibawa oleh para pedagang Cina dan Arab dari tempat yang jauh di tengah lautan, yang mereka sebut Al-Mulk (tanah para raja). Untuk mencari sumber rempah-rempah inilah, para raja-raja Eropa menyebar kapal-kapal penjelajah mengarungi samudera.

Saat itu, buah pala tak ditemukan di belahan dunia mana pun. Buah ini hanya tumbuh di tanah Banda. Diperebutkan oleh Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda (VOC). Demi memonopoli perdagangan pala, VOC menghabisi ribuan rakyat Banda, dan menggantinya dengan buruh-buruh upah yang didatangkan dari pulau Buton dan Jawa untuk membuka perkebunan-perkebunan pala di pulau Neira, Banda Besar, Ay, Rhun, Pisang, dan Rozengain di kepulauan Banda.

Kini, sisa-sisa perkebunan pala masih bisa dilihat di pulau banda Besar. Hanya memerlukan 15 menit menyeberang dengan ojek perahu untuk sampai ke dermaga panjang desa Lonthoir. Dekat pintu masuk desa terdapat belang (perahu kora-kora) adat, menunjukkan bahwa Lonthoir adalah salah satu desa tertua di kepulauan Banda.

Seperti tahun lalu, saya pun kembali menyusuri jalan memasuki perkampungan. Untuk menuju perkebunan, saya harus menapaki ratusan anak tangga. Hingga sampai di sebuah lapangan terbuka yang cukup luas, di mana terdapat Parigi Lonthior, sumur yang cukup dikeramatkan oleh penduduk di sana.

Walau berasal dari satu mata air, Parigi Lonthoir memiliki dua mulut sumur yang berdampingan. Yang satu airnya diambil untuk keperluan rumah tangga seperti mencuci dan memasak. Sumur yang satu lagi airnya khusus untuk diminum. Ketika ditawari minum air sumur, saya pun tak menolak. Airnya dingin dan segar, lebih segar daripada air kemasan yang saya bawa.

Setiap 7 tahun sekali selalu diadakan acara Cuci Parigi yang dipimpin oleh Mama Lima, perempuan pemuka adat yang akan mencelupkan kain gajah –kain putih sepanjang 99 meter– ke dalam sumur. Lama-kelamaan air sumur pun mengering. Kemudian para perempuan akan berbaris membawa kain gajah beramai-ramai menuju pantai. Saat para perempuan mencuci kain panjang di pantai, para lelaki membersihkan dinding sumur. Boleh percaya atau tidak. Saat kain gajah sudah tercuci bersih, air kembali memenuhi sumur.

Perjalanan pun berlanjut, menyusuri jalur masuk ke dalam hutan. Pohon kayu manis tumbuh subur. Beberapa di antaranya tampak sudah dikikis kulit batangnya. Tak hanya kulit kayu manis yang menghasilkan aroma yang khas, tapi daunnya pun cukup harum saat dikunyah.

Di tengah hutan, pohon-pohon pala tumbuh subur dengan buah berwarna kuning yang menggantung memberati dahan. Pohon-pohon ini berlindung di bawah beberapa pohon kenari raksasa yang sudah berumur lebih dari seabad.

Ada semacam peraturan adat di sana, bahwa buah pala tak boleh dipetik sebelum pecah merekah. Saat musim panen tiba, para perempuan akan berkumpul bersama untuk mengupas pala. Daging buahnya akan diolah menjadi selai, sirup, dan manisan. Bijinya digunakan untuk memasak, sedangkan fulli –lembaran merah yang menyelimuti biji– selain untuk bumbu juga menjadi bahan utama pembuatan kosmetik. Terbayang kembali mengapa buah ini dulu diperebutkan para bangsa Eropa.

Menaiki bukit di ujung desa, masih ada sisa-sisa benteng Holandia. Selapis dindingnya pun sudah nyaris roboh. Dulunya benteng ini digunakan sebagai benteng pengintai. Dari bukit ini memang tampak selat yang menjadi salah satu jalan masuk ke pulau Neira, dilatarbelakangi Gunung Api yang menjulang tinggi.

Tempat Pembuangan yang Indah

Mungkin karena letaknya yang dianggap ‘antah berantah’, kepulauan Banda dijadikan tempat pembuangan tahanan politik dari zaman VOC hingga pemerintahan Hindia-Belanda berkuasa. Dalam catatan, puluhan tahanan politik dari Aceh, Pontianak, Semarang, Blitar, dan kawasan lain dibuang ke sana. Termasuk dr. Tjipto Mangunkusumo (1928-1940), Iwa Kusuma Sumantri (1929-1940), Sutan Sjahrir (1934-1942), dan Mohammad Hatta (1934-1942).

Bekas rumah tinggal mereka pun dijadikan cagar budaya. Rumah Hatta, misalnya, dijadikan museum dan dibuka untuk umum. Di dalamnya masih tersimpan perabot yang pernah beliau pakai. Tempat tidur, lemari, meja kursi, juga mesin ketik. Dindingnya dihiasi foto-foto keluarga dan kegiatan beliau saat menjadi pejabat negara. Dipisahkan oleh halaman rumput, bangunan belakang sempat dijadikan tempat beliau diam-diam mengajar anak-anak Banda Neira. Des Alwi salah satunya.

Suasana ruang tamu di Rumah Sjahrir pun dihiasi puluhan foto dan lukisan yang tertempel di dinding. Mesin ketik pun dipajang di meja kerja sebagai penanda walau dalam pembuangan, beliau tetap berfikir dan berjuang untuk negeri ini.

Jangan Lewatkan

Berperahu dari pulau ke pulau, menikmati pantai berpasir putih, bahkan kalau beruntung bisa bertemu dengan sekawanan ikan lumba-lumba yang akan berenang mengiringi perahu. Keindahan pemandangan bawah lautnya menjadikan kepulauan ini sebagai salah satu spot diving terbaik di dunia.

Tak hanya laut, Gunung Api yang merupakan markah tanah kepulauan Banda pun bisa didaki. Bagi pendaki amatiran seperti saya, perjuangannya memang luar biasa. Sekali melangkah maju, dua langkah terseret mundur. Namun, sesampai puncak di ketinggian 650 mdpl, semua kelelahan langsung sirna. Seluruh kota Banda Neira jelas terlihat, pulau-pulau lain bagai bertebaran di lautan lepas.

Memang tak mudah mengunjungi kepulauan ini. Untuk menuju ke sana bisa menggunakan pesawat terbang perintis (Susi Air) yang berkapasitas 12 orang. Jadwal dari Ambon hanya 2-3 penerbangan dalam seminggu. Itu pun bisa batal mendarat bila cuaca tak memungkinkan. Pilihan lain adalah kapal Pelni dari Ambon ke Banda Neira, setiap 2 minggu sekali. Waktu terbaik ke sana adalah pada bulan Oktober hingga awal Desember saat angin, ombak, dan cuaca bersahabat. Tapi mungkin karena ‘terisolasi’ inilah, keindahan kepulauan Banda bagai surga, dan tetap terjaga lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Travel

  • Menapak Sesaat di Pulau Rote

    Pulau Rote tidak seterkenal Pulau Flores dan Pulau Komodo. Kecuali bagi para peselancar, wisatawan umumnya lebih mengenal Flores dan Komodo. Terletak...

    Sadikin GaniJuly 19, 2015
  • Perjalanan Spiritual Bagi Saya

    Bisa berbincang-bincang dengan orang-orang di tempat yang saya singgahi, dan mengenali kehidupan mereka meski sekilas adalah kepuasan dari sebuah perjalanan. Jika...

    Sadikin GaniJune 17, 2015
  • Inspirasi dari Jember

    Sebuah proses kreatif yang dikerjakan serius pada saatnya akan membawa hasil baik. JFC yang awalnya hanya dipandang sebelah mata dan tak...

    Sadikin GaniFebruary 28, 2015
House of Harlow 1960