Connect
To Top

Menapak Sesaat di Pulau Rote

Pulau Rote tidak seterkenal Pulau Flores dan Pulau Komodo. Kecuali bagi para peselancar, wisatawan umumnya lebih mengenal Flores dan Komodo. Terletak di bagian paling selatan Nusa Tenggara Timur, Rote adalah pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Australia.

Pulau Rote. Jika Anda mengetikkannya di mesin pencari Google, kurang lebih ada 460.000 informasi yang mengandung dua kata itu. Sebagian besar berisi tentang informasi pariwisata dalam format teks dan foto. Di era serba internet seperti sekarang, bukan hal yang sulit untuk mencapai tempat-tempat seterpencil apapun yang pernah disinggahi orang. Hanya dalam waktu beberapa detik, kita bisa memperoleh informasi yang beragam.

Tentu saya tak akan mengulang informasi yang sama sepulang mengunjungi Rote kurang lebih tiga pekan silam. Akan lebih berarti jika saya berbagi pengalaman singkat selama berada di sana.

Kunjungan saya ke Pulau Rote tak pernah direncanakan sebelumnya. Meski keinginan untuk pergi ke sana sangat besar. Melampaui keinginan saya untuk pergi ke Flores, Komodo, atau Sumba yang lebih dikenal banyak orang. Alasannya sederhana, jika pergi ke Rote, saya akan lebih tenang menjajaki suasana dan kehidupan orang-orang di sana. Tidak teralihkan dan dipusingkan oleh keramaian rombongan turis dan para hipster dari kota-kota besar.

Tak Ada Penerbangan Setiap Hari

Pulau Rote tidak seterkenal Pulau Flores dan Pulau Komodo. Kecuali bagi para peselancar, wisatawan umumnya lebih mengenal Flores dan Komodo. Terletak di bagian paling selatan Nusa Tenggara Timur, Rote adalah pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Australia.

Empat hari berada di Rote sangat jauh dari cukup, sekalipun hanya untuk mengenali bagian permukaan kehidupan orang-orangnya. Saya pun tidak berharap banyak memperoleh informasi, kecuali menangkap suasana yang harapannya suatu saat akan saya singgahi kembali.

Berangkat dari Jakarta menuju Kupang menggunakan pesawat, dilanjutkan dengan kapal cepat Kupang-Pulau Rote, untuk pertama kalinya saya menyapa pandang ke salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur.

Kurang lebih pukul 12 siang Waktu Indonesia Tengah saya tiba di pelabuhan Ba’a, Rote. Udaranya cerah. Angin berhembus sedang. Langit biru berbayang di permukaan air laut yang bening. Orang-orang berderet di dermaga. Tukang angkut barang dan penjemput berbaur jadi satu. Beberapa anak kecil berseragam sekolah dasar berlarian mengikuti irama kapal yang hendak bersandar. Ada kehangatan di sana.

Di ujung dermaga, saya melihat dua kapal pengangkut barang yang tengah bersandar. Saat berjalan menuju daratan, perhatian saya tertuju pada mercusuar yang berdiri tegak di samping pelabuhan. Sekilas bentuknya seperti banyak mercusuar tua yang dibangun Belanda. Ternyata bukan. Mercusuar Ba’a justru adalah mercusuar termuda.

Dibangun kurang lebih empat tahun silam. Untuk sampai di Rote bisa saja kita menggunakan pesawat dari Kupang. Hanya, jadwal penerbangan ke Pulau Rote maupun sebaliknya tidak tersedia setiap hari. Hanya ada di hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Selebihnya, kita hanya bisa menumpang kapal cepat. Itu pun jika laut sedang tenang. Tak jarang pihak transportasi laut menutup jalur pelayaran Kupang-Rote karena tingginya gelombang laut.

Jalan Satu Arah

Ba’a adalah pusat pemerintahan Pulau Rote dan Ndao yang secara administratif disebut Kabupaten Rote Ndao. Sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Tingkat II Kupang. Baru pada 2003 menjadi kabupaten sendiri.

Memasuki Ba’a jangan membayangkan suasana sebuah pusat kota kabupaten di Jawa umumnya. Bahkan dari sisi keramaian dan fasilitas kotanya masih kalah ramai dan lengkap dibanding kota kecamatan Abepura, Jayapura, Papua.

Jalan raya di Ba’a sebagian besar berukuran kecil. Praktis hanya dapat dimasuki satu kendaraan roda empat. Tak heran bila di kota ini banyak jalan satu arah. Jalan yang cukup besar, yang dapat menampung kendaraan roda empat dari dua arah ada di Nembrala, bagian paling Barat Pulau Rote. Daerah ini merupakan salah satu kawasan wisata para pemburu ombak (peselancar).

Bagi saya yang lebih menyukai suasana alamiah, Ba’a adalah tempat yang dapat memberi suasana baru. Sebuah suasana kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk kota-kota di Jawa umumnya.

Menyusuri ruas jalan Pabean yang menjadi pusat perdagangan, tak banyak ditemui lalu-lalang kendaraan. Sesekali ada kendaran roda empat dan dua yang melintas, diselingi suara khas kendaraan penggiling padi. Seperti di Jawa, di sini pun ada angkutan kota dan tukang ojek. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Lebih kurang per tigapuluh menit kita baru bisa menemukan angkutan kota yang melintas.

Sebagai pusat perdagangan, mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan sekunder bisa kita temukan di jalan Pabean. Ada pula mini market sederhana. Toko-toko yang berjejer di jalan ini mengingatkan saya pada toko-toko di daerah Pecinan di Bandung. Para pedagangnya berasal dari berbagai etnis. Cina, Bugis, dan orang Rote sendiri.

Selain menyusuri jalan Pabean, kita pun bisa menyusuri tepi pantai Ba’a. Di pagi hari kita akan disuguhi pemandangan para nelayan yang baru pulang melaut. Kedatangannya ke darat sudah ditunggu para pembeli ikan yang akan dijual lagi di pasar. Menyaksikan proses tawar-menawar harga dan obrolan di antara mereka merupakan keasyikan tersendiri.

Di sore hari, kita bisa menyaksikan saat matahari terbenam. Bila Anda berkesempatan datang ke tempat ini, Anda akan merasakan suasana alamiah pergantian siang ke malam yang jauh berbeda dengan suasana menyaksikan kejadian serupa di kawasan wisata seperti di Bali. Pergantian dari terang matahari ke cahaya lampu listrik tanpa diganggu suasana ramai wisatawan, sungguh pengalaman yang luar biasa. Perputaran alam yang sesungguhnya hal biasa itu lebih bisa dinikmati dan diresapi.

Jika Anda tertarik menikmati perjalanan sederhana seperti ini, kenapa tidak mulai menyusun agenda untuk datang ke Pulau Rote?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Travel

  • Mengingat Sejarah Banda Neira

    Banda Neira, kepulauan kecil di tengah laut Banda, Maluku. Dari ribuan tempat wisata di Indonesia, inilah satu tempat yang menyajikan keindahan...

    Terry EndropoetroAugust 18, 2015
  • Perjalanan Spiritual Bagi Saya

    Bisa berbincang-bincang dengan orang-orang di tempat yang saya singgahi, dan mengenali kehidupan mereka meski sekilas adalah kepuasan dari sebuah perjalanan. Jika...

    Sadikin GaniJune 17, 2015
  • Inspirasi dari Jember

    Sebuah proses kreatif yang dikerjakan serius pada saatnya akan membawa hasil baik. JFC yang awalnya hanya dipandang sebelah mata dan tak...

    Sadikin GaniFebruary 28, 2015
House of Harlow 1960