Connect
To Top

Mark Reay: Model dan Fotografer Fashion Tunawisma

Pernahkah Anda menduga fotografer yang bekerja untuk Diane von Furstenberg (DVF), Rebeca Taylor, Calvin Klein, dan Lacoste adalah seorang tunawisma? Pernahkah Anda mengira seorang mantan model yang pernah berjalan untuk Versace, Moschino dan Missoni hidup menggelandang di atap sebuah gedung di kota New York?

New York, New York

New York, seperti kita tahu adalah salah satu dari the big four modeling and fashion capitals of the world. Setara Paris, Milan dan London. Majalah fashion paling berpengaruh di dunia, Vogue, terbit di kota ini. Brand-brand fashion dan para desainer besar banyak yang lahir dan mengembangkan karirnya di sini. Merupakan kota pertama di dunia yang menggelar fashion week (1944). Met Gala, sebuah ajang pengumpulan dana untuk Metropolitan Museum of Art’s Costume Institute yang biasa dihadiri kaum jetset dan selebritas kelas dunia, juga diselenggarakan di kota ini.

Tak hanya itu. Selain New York terkenal dengan gaya hidup mewah para pialang (baca: spekulan) saham di Wall Street, kota yang identik dengan fashion dan style ini pun dihuni seorang icon street fashion photography, Bill Cunningham. Termasuk photo blogger paling berpengaruh di dunia, Scott ‘The Sartorialist’ Schuman.

Sebagai kota metropolitan terpadat di dunia, bukan hanya kehidupan glamor yang ditampilkan New York. Gelandangan dan tunawisma pun menjadi penghias wajah kota ini. Menurut Department of Housing and Urban Development, hingga Januari 2014 tercatat ada 67,810 orang tunawisma di New York (Erika Wagner, This Fashion World Darling is Homeless, The Daily Beast). “Kehidupan di sini sangat timpang. Dari yang paling kaya hingga paling miskin ada,” kata pasangan saya yang sempat blusukan di New York menjelang akhir tahun lalu (2014). Kaum kaya dan miskin hidup dalam kontras bisu, itulah New York.

Kaya dan miskin hidup di sebuah kota adalah biasa. Tidak hanya di New York, juga di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Tapi, pernahkah Anda berpikir seseorang yang bekerja di bidang fashion, berinteraksi dan menjalani kehidupan di lingkungan orang-orang glamor adalah seorang tunawisma? Pernahkah Anda menduga seorang yang pernah mengambil gambar di backstage Diane von Furstenberg (DVF), fashion show Alexander Wang, Rebeca Taylor, Calvin Klein, dan Lacoste adalah fotografer tunawisma dan mantan model di bawah naungan Ford dan Wilhelmina?

Tunawisma memang pemandangan biasa di kota-kota besar. Tapi membayangkan seorang fotografer fashion dan mantan model kelas atas hidup menggelandang di atap sebuah gedung di East Village, New York, rasanya tak mungkin. Percaya atau tidak, itulah kenyataan hidup yang dialami Mark Reay (56 tahun).

Menjadi Model Tak Seindah Dibayangkan

Mark Reay adalah seorang sarjana lulusan University of Charleston, Amerika Serikat. Selepas kuliah dia tidak langsung memasuki dunia kerja seperti kebanyakan orang. Mark justru pergi keliling Eropa untuk berkelana sebagai backpacker. Entah karena menyadari wajahnya yang cukup tampan dengan postur tubuh yang memenuhi syarat seorang model, dia kerap berpikir dirinya bisa menjadi seorang model. Pikiran itu tidak pernah terbukti hingga tiba di Brussel dan memutuskan menjadi model (1984—1988). Selama pengembaraannya di Eropa dia sempat berjalan untuk fashion show Versace, Moschino dan Missoni. Termasuk menghiasi halaman majalah Vogue Prancis.

Kegemarannya berkelana dia hentikan sejenak saat mendapat kabar bapaknya sakit. Dia pun kembali ke Amerika, lalu menetap di New York dan menjalani pekerjaan sebagai model, meski on/off tak menentu. Untuk melengkapi keahliannya Mark mengambil kursus akting. Tahun 1996 adalah awal baginya memasuki dunia film meski hanya mendapatkan peran kecil. Antara lain dalam film Celebrity dan Sex and the City.

Setelah bapaknya meninggal tahun 2000, Mark berpikir tak ada kewajiban lagi untuk terus menetap di New York. Dia pun kembali berkelana ke Eropa. Kali ini bukan hendak bekerja sebagai model. Dia sadar di usianya yang sudah memasuki kepala empat tidak memungkinkan lagi untuk itu. Tak kehilangan akal, berkat kenalan dan jaringannya di dunia fashion plus bekal keahliannya memainkan kamera, dia pun alih profesi menjadi seorang fotografer di backstage. Mark yakin dirinya memiliki mata yang baik dan kemampuan menghasilkan gambar yang lumayan, sehingga bisa memperoleh uang dari sana.

Mark Reay memotret di Backstage sebuah Fashion Show / Foto: Homme Less

Mark Reay memotret di Backstage sebuah Fashion Show / Foto: Homme Less

Mark sempat memotret untuk Arena, majalah laki-laki berbasis di Inggris, serta beberapa jaringan televisi. Menurutnya, di situlah uang berada. Dia merasa bodoh telah meyakini bisa mendapatkan penghasilan lumayan dari pekerjaannya sebagai model. “Saya pernah dikontrak oleh Ford dan Wilhelmina di New York, keduanya agensi besar. Tapi sungguh berat untuk memenuhi kebutuhan hidup dari modeling,” kenang Mark kepada Morwenna Ferrier, editor fashion The Guardian (The Fashion Photograper Who was Homeless for Six Years, The Guardian).

Lantas Mark berpikir, menjadi fotografer panggilan orang-orang kaya di Prancis tampaknya ide bagus untuk menghasilkan uang. Berangkatlah dia ke Prancis. Tinggal menumpang di rumah seorang kenalannya di Juan-les-Pins. Namun, mimpi mendapatkan uang dari pekerjaan itu tetap menjadi mimpi. Ide yang dia bawa ke Prancis tak menghasilkan apa-apa.

Beberapa minggu menumpang di rumah orang tanpa penghasilan bisa menimbulkan masalah. Mark pun memutuskan pergi ke St Tropez. Dia mulai menggelandang. Berbekal kasur gulung dia tidur di perbukitan. Pagi-pagi dia pergi ke taman dan restoran yang sibuk untuk menumpang mandi dan mencuci pakaian. Setelah merapikan diri dengan rambut mengkilap dia biasa duduk di dekat cafe tanpa ada yang mengira dirinya tengah menunggu jemuran kering. “Saya memiliki kepercayaan diri untuk duduk di sana, dan saya tahu saya tidak berbuat salah,” kata Mark (Morwenna Ferrier, ibid).

Atap Gedung dan 70 Dolar untuk Gym

Menyadari usahanya sudah gagal, berbekal sisa tabungannya dia kembali ke New York untuk memulai lagi menjadi fotografer di fashion week. Dia mengirimkan beberapa foto ke beberapa majalah, hingga suatu hari mendapatkan permintaan memotret backstage dari majalah Dazed.

Selama menunggu honor dari Dazed, dia tinggal di sebuah hostel murah di Williamsburg. Kondisinya jauh dari nyaman. Dia harus bertempur dengan pasukan kutu busuk yang beranak pinak di kasur tempatnya tidur. Dia sudah tidak sanggup lagi tinggal di sana lebih dari 10 hari, tapi tak punya uang untuk mendapatkan tempat yang lebih baik.

Mark Reay di Atap Gedung Tempat Tinggalnya / Foto: Homme Less

Mark Reay di Atap Gedung Tempat Tinggalnya / Foto: Homme Less

Dalam keputusasaan terlintas di pikirannya atap sebuah gedung yang pernah dijadikan tempat minum coctail bersama kawannya. Tanpa pikir panjang pada suatu malam dia menyelinap dan naik ke atap gedung itu. Awalnya hanya berniat tinggal untuk beberapa hari saja. Di luar dugaan, Mark tinggal selama enam tahun (2008-2014), berbekal beberapa item pakaian dan selimut bekas. Ada juga ponco murah dan terpal yang dijadikan pelindung agar tak terlihat orang. “Saya memiliki penghasilan dari beberapa pekerjaan di majalah Dazed (lihat foto-foto karya Mark untuk Dazed), tapi tidak cukup untuk membayar sewa tempat tinggal. Jadi saya memutuskan tetap tinggal di situ hingga memperoleh pekerjaan yang memungkinkan saya pergi,” kata Mark.

Meskipun Mark meminati kehidupan backpacker, tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan menjalani kehidupan nyata seperti itu dalam waktu yang cukup panjang. Tak pernah terlintas dalam benaknya memaksakan diri menjadi anggota sebuah gym—dengan biaya 70 dolar per bulan—demi mendapatkan fasilitas kamar mandi, sumber listrik, dan toilet. Di tempat itu pula dia menyimpan pakaian dan kameranya dengan aman, serta mencuci pakaian dan mengeringkannya di bawah hand dryers.

Hidup di atap sebuah gedung tak ada bedanya dengan mereka yang tergeletak di emperan toko dan taman-taman kota. Tapi, seperti pengakuan Mark, tak ada orang yang tahu kenyataan dirinya sebagai seorang tunawisma yang menghabiskan malam-malamnya di atap sebuah gedung kota New York. Seperti saya dan mungkin juga Anda tidak akan pernah menduga jika salah seorang fotografer yang hadir di perhelatan akbar New York Fashion Week adalah seorang tunawisma bernama Mark Reay.

Homme Less

Kehidupan Mark Reay yang dulu tersimpan sebagai rahasia itu kini dibuka ke hadapan publik dalam kemasan film dokumenter berjudul Homme Less. Dibuat oleh Thomas Wirthensohn, seorang film maker asal Austria. Kehadirannya berhasil meraih beberapa penghargaan, seperti Best Documentary 2014 dari Festival Kitzbuhel, Austria; Grand Jury Award Metropolis Competition, DOC NYC 2014; Official Selection 48 International Hofer Filmtage 2014; Official Selection Diagonale 2015; Official Selection Sarasota Film Festival 2015; dan Official Selection DOCAVIC 2015.

Homme Less mulai diputar di hadapan publik pada 07 Agustus 2015 di IFC Center, New York.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Portrait

  • Kunci Bahagia Oky Setiarso

    Setiap anak berhak atas kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. @kelasbelajaroky melakukan langkah-langkah kecil yang berkesinambungan untuk mewujudkannya.

    Maeya ZeeAugust 10, 2015
  • Chef AB & Barista Aga: Maskulinitas dalam Ruang Kuliner

    Semakin menggeliatnya sektor kuliner di negeri ini, berdampak pada tersohornya profesi yang selama ini nyaris terlupakan: chef atau juru masak dan...

    Siti RahmahJuly 19, 2015
  • Dunia Style dan Travel Khairiyyah Sari

    Dibayar untuk nyinyir mengritisi penampilan orang? Profesi sebagai Konsultan Penampilan yang digelutinya memungkinkan untuk itu.

    Siti RahmahJuly 18, 2015
House of Harlow 1960