Connect
To Top

Kunci Bahagia Oky Setiarso

Setiap anak berhak atas kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. @kelasbelajaroky melakukan langkah-langkah kecil yang berkesinambungan untuk mewujudkannya.

Bukan rahasia lagi bahwa ribuan orang di negeri ini masih tinggal di tempat ilegal dan tak layak huni. Seperti para pemulung yang tinggal di daerah kumuh di Jakarta. Anak-anak mereka pun terlantar tanpa bimbingan dan bekal pendidikan yang cukup. Bukan hal mengejutkan jika kita menemukan anak berusia 8 tahun belum bisa menulis dan membaca. Melalui Kelas Belajar-nya, Oky Setiarso mengajak generasi muda untuk berbagi ilmu kepada anak-anak putus sekolah.

Kesempatan Berbagi Oky

Selama lebih dari 10 tahun, Oky mendedikasikan hidupnya di bidang sosial kemanusiaan. Dimulai dari profesinya di beberapa non-governmental organization (NGO) yang menugaskan Oky untuk keliling daerah terpencil di Indonesia. Awalnya Oky bekerja di NGO untuk mengentaskan permasalahan promotif dan preventif kesehatan malaria di daerah paska konflik di Maluku Utara, lalu berpindah ke Merauke dan Boven Digoel, Papua untuk program TBC (tuberculosis) dan HIV AIDS.

Saat bencana Tsunami Aceh tahun 2004, Oky hampir setahun melakukan program pendampingan kesehatan masyarakat di Lamno, Aceh. Setelah bertahun-tahun berpindah dari Merauke sampai Sabang, sang Ibunda dan sahabat terdekatnya memintanya untuk kembali ke Jakarta dan berharap ia menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS) saja dan bekerja di ibukota. Sempat diterima sebagai PNS namun Oky tetap melanjutkan kiprahnya di berbagai daerah di Indonesia sesuai panggilan jiwanya. Jam terbangnya dalam menangani program-program pemberdayaan dan kesehatan masyarakat akhirnya ia dipercaya untuk menjadi bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah bank sejak tahun 2012 hingga saat ini.

Berdasarkan pengalamannya, Oky melihat banyak hal yang ingin diperbaiki dari program-program sosial yang selama ini telah diterapkan di tengah masyarakat. Namun ia sadar bahwa tak ada gunanya jika hanya sekadar berkomentar saja. Ia tergerak untuk melakukan sesuatu demi perubahan lingkungannya.

Dengan latar belakang pendidikan di bidang kesehatan masyarakat, Oky mengamati salah satu permasalahan pelik di Indonesia adalah masalah gizi dan kesehatan anak-anak. “Hal penting untuk menciptakan perubahan lingkungan adalah membekali anak-anak dengan pengetahuan hidup bersih dan sehat. Selanjutnya, memberikan pengetahuan dan pendidikan dari sisi budaya dan lingkungan. Nasib miskin harus diubah dengan penghidupan yang baik, kesehatan yang layak, dan bekal pendidikan. Sebab lahir miskin adalah takdir, tetapi mati miskin adalah dosa yang bisa diubah,” ungkapnya.

Mulanya Oky berpikir bahwa anak kecil itu susah diatur dan ia tak terlalu berminat dengan dunia anak-anak. “Ternyata saya salah besar, sampai akhirnya saya menemukan satu buku yang mengatakan bahwa anak-anak bisa mengubah keluarga dan lingkungan terdekatnya,” kenang Oky. Ketika hatinya tersentuh dengan keluguan dan kepolosan anak-anak, tercetuslah ide untuk memberikan bekal masa depan bagi mereka. Sejak 2010 silam, setiap hari Sabtu dan Minggu, Oky bersama teman-teman relawan membina ratusan anak-anak dari usia taman kanak-kanak hingga remaja yang berasal dari Bintaro Permai Tiga, Bintaro Sarmili, Johar Baru, Kampung Beting Koja Priuk, Kalibaru Timur Cilincing, Kelapa Gading Semper, dan Penjaringan Pluit dalam komunitas yang diberi nama @kelasbelajaroky.

Tak hanya di Jakarta, tetapi juga di Solo dan Makassar. Oky sempat juga mendirikan kelas belajar di lereng Gunung Merapi, tepatnya Desa Banyubiru dan Desa Krinjing, Magelang, pada awal tahun 2010. Sekitar 700 anak telah mengikuti @kelasbelajaroky. “Membekali anak-anak dengan pengetahuan merupakan proses panjang. Kita jangan kasih ikannya, tetapi kailnya. Anak-anak bisa mengubah keluarga dan lingkungannya, dan mengembalikan ke bangsa kita,” harapnya.

Dalam melakukan program ini, menurut Oky, bukan semata menyisihkan uang pribadi saja dari pekerjaan utama yang dilakukannya, tetapi yang terutama adalah berkomitmen untuk menyumbang waktu, pikiran, dan hati untuk anak-anak. “Sebenarnya untuk bisa melakukan perubahan tak perlu modal besar yang muluk-muluk. Cukup dengan modal sederhana. Saya awali dengan sejumlah pensil, buku tulis, buku gambar, dan alat-alat kreativitas belajar lainnya,” kata Oky yang percaya bahwa anak-anak, ibu, dan masyarakat memerlukan pendampingan untuk bertumbuh kembang serta mendapatkan kesempatan hidup yang layak.

Waktu Tak Bisa Menunggu

Hidup adalah pilihan. Bisa saja di akhir pekan, Oky dan rekan-rekannya memilih beristirahat di rumah daripada harus berkeringat di pinggir jalan di perkampungan marjinal. Namun ia memaknai bahwa hidup tak sekadar untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja. Setiap kali melewati waktu bersama anak-anak dan ibu-ibu di kelompok marjinal ini, Oky seakan sedang bermain-main. Tetapi bukan berarti ia tidak serius menjalani aktivitas ini. Ia ingin membuktikan bahwa melakukan kebaikan bisa menjadi aktivitas yang membahagiakan juga. Tak semua hal yang membahagiakan hanya dinilai dari sisi materiil saja. Ketika bisa memberikan makna kepada orang lain, itulah kebahagiaan terbesar baginya.

Bahkan dari hasil main-mainnya itu, Oky diundang oleh Pemerintah Amerika Serikat mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat, awal tahun 2015. “Kegiatan berbagi ilmu ini terbukti ampuh bagi saya dan rekan-rekan untuk menghilangkan jenuh atau hidup yang monoton, dan lebih bersyukur untuk memaknai hidup,” tuturnya.

Harapan Oky adalah bisa berbagi kepada sesama tanpa harus menunggu usia senja dan punya materi serta gelar yang banyak. Ia mengungkapkan, “Di saat sebelum usia senja atau pensiun, justru mungkin akan bisa lebih maksimal, secara tenaga dan waktu. Selain itu, kalau berumur panjang, berarti kita punya kesempatan berbuat baik lebih banyak. Karena kita tak pernah tahu sampai kapan kita diberi kesempatan hidup kan? Untuk itu, mengapa tidak mulai dilakukan dari sekarang saja?”

Dalam @kelasbelajaroky, setiap orang bisa melakukan hal-hal sederhana untuk mengubah lingkungan terdekatnya. Oky menyakini, dengan ilmu dan keahlian masing-masing, setiap orang bisa menciptakan perubahan positif. Ada berbagai aktivitas dalam @kelasbelajaroky yang dilakukan seperti mengajarkan anak-anak materi pelajaran sekolah dan ketrampilan lain seperti menggunakan alat musik pianika dan gitar. Termasuk pula memperkenalkan beragam profesi dengan mengundang rekan-rekan Oky yang memiliki beragam profesi seperti insinyur, ahli gizi, diplomat, pemusik, fotografer, dan wartawan. “Tujuannya supaya anak-anak dapat banyak pengalaman dan pengetahuan bahwa profesi tidak hanya sebagai dokter, guru, atau satpam saja,” ujarnya. Saat ini @kelasbelajaroky memiliki sekitar 50 orang relawan.

Aktivitas sosial yang konsisten dilakukan Oky sebagai ungkapan terima kasih kepada lingkungan dan negerinya. Bukan hal luar biasa, baginya, karena siapapun bisa melakukannya asalkan ada niat dan komitmen. Ia berharap bisa terus melangkah dan menabur benih perubahan. Ia juga berharap masyarakat Indonesia lebih toleransi dan peduli pada sesama dengan melakukan aksi nyata yang bisa dimulai dari dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Portrait

House of Harlow 1960