Connect
To Top

Kesinambungan Pleats

Kerumitan yang dimiliki pleats atau aksen lipit tidak menghapus keberadaannya. Justru, tren busana ini terlihat berbaris memenuhi panggung runway Spring/Summer 2015.

Lapis Historis

Telusurilah koleksi pakaian Spring/Summer 2015 dari para desainer ternama di dunia, maka Anda akan menemukan motif pleats di mana-mana. Memang benar kalau pleats menjadi salah satu tren yang mengambil hati banyak perancang busana internasional. Padahal, proses pembuatannya bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi pleats terbagi dalam beberapa tipe atau jenis yang berbeda, dan masing-masing memiliki teknik yang berbeda. Banyaknya detil yang perlu diperhatikan turut menambah kompleksitas pleats.

Tren pleats seakan tak pernah mati, layaknya sebuah tradisi atau warisan budaya. Ya, sebenarnya, pleats memang warisan budaya yang sudah diturunkan ke berbagai generasi di seluruh dunia oleh bangsa Mesir kuno. Beratus-ratus tahun yang lalu, orang Mesir biasanya menyiramkan telur ke atas kain dan menjemurnya di bawah terik matahari untuk menciptakan aksen lipit pada pakaian. Karena prosesnya yang tak mudah, pleats dianggap sebagai suatu simbol kekuasaan dan kemewahan.

Hal yang sama juga ditemui di zaman Yunani kuno. Pleats pada kain dibuat dengan tangan, dan harus dilakukan berulang-ulang, karena setiap lipitan akan hilang setelah dicuci. Terinspirasi oleh bangsa Yunani, perancang busana Mariano Fortuny kemudian mempopulerkan kembali pleats di tahun 1909. Pada saat itu, keberadaan pleats perlahan-lahan telah menghilang. Namun, setelah Fortuny muncul dengan gaun bernama Delphos – busana ini harus dikenakan tanpa pakaian dalam supaya dapat menonjolkan lekuk bentuk tubuh perempuan – berhiaskan pleats, aksen lipit menjadi sorotan lagi di dunia fashion modern.

Ketika membicarakan tentang pleats modern, haram hukumnya jika tak menyinggung soal Issey Miyake. Fortuny memang berjasa memperkenalkan kembali pleats, namun desainer asal Jepang tersebutlah yang berhasil menggembangkan aksen lipit dengan label ready to wear-nya yang diberi nama “Pleats Please”. Resmi diluncurkan tahun 1993, Pleats Please terdiri dari pakaian yang terbuat dari bahan polyester yang dimasukkan ke dalam mesin pelipit. Hasilnya adalah pleats yang sempurna untuk perempuan modern. Lipitannya permanen, sehingga tak akan hilang setelah dicuci. Teksturnya yang elastis membuatnya sesuai dikenakan untuk bentuk tubuh apapun, oleh perempuan usia berapapun. Karena tidak mudah kusut, pakaian pleats dari Pleats Please tak perlu disetrika dan dapat diselipkan dalam tas atau koper ketika bepergian.

Lipatan Baru

Ciri yang sama juga tampak di koleksi terbaru Pleats Please. Koleksi yang diberi judul “Surprise” ini memiliki kesan yang ‘ringan’, sehingga memberikan kebebasan untuk bergerak bagi pemakainya. Sesuai namanya, koleksi kali ini muncul dengan warna dan pola yang mencuri perhatian. Corak cerah dan motif geometris yang dilukis dengan tangan menyimbolkan perasaan gembira yang sering dikaitkan dengan kedatangan musim panas. Sama dengan Issey Miyake, Roberto Cavalli juga memilih paduan warna yang mengejutkan pada gaun lipitnya.

Sifatnya yang terlihat ‘enteng’ memang membuat pleats cocok disandangkan dengan pilihan warna terang yang kerap muncul dalam koleksi Spring/Summer. Bahkan Givenchy tak kuasa menahan godaan pleats. Dalam koleksi ready to wear-nya yang didominasi tema monokrom, terselip sebuah gaun pendek merah muda dengan aksen lipit.

Pleats tidak hanya muncul dalam bentuk gaun one piece, tetapi juga berupa rok pendek yang berkesan lebih informal. Misalnya, rok pleats dari koleksi Spring/Summer 2015 milik Maison Kitsune. Dengan warnanya yang netral, rok tersebut sekilas terlihat seperti bagian dari seragam sekolah. Ketika dipadankan dengan kaos dan jaket, rok lipit tampak pantas digunakan sehari-hari.

Rok dengan aksen pleats juga menjadi andalan Topshop Unique di musim Spring/Summer 2015 ini. Dengan panjang yang tepat (tak jauh di atas lutut), rok lipit dari Topshop Unique cocok dikenakan ke tempat kerja.

Dior kemudian membawa tren pleats Spring/Summer 2015 ke level berikutnya ketika rumah fashion tersebut menghadirkan sebuah rok lipit berwarna-warni yang memicu decak kagum para kritikus di Paris. Rok tersebut terbuat dari pita yang dijahit dengan sedemikian rupa ke atas bahan dasar, sehingga menghasilkan aksen pleats yang rumit. Dengan teknik baru ini, Dior juga berhasil membuat rok pleats melambung ketika seorang perempuan berjalan saat mengenakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Trend

  • Representasi Perempuan Urban yang Dinamis

    Tanpa banyak ornamen, label Austere by Tri Handoko mampu “berbicara” dengan tegas. Simbol sosok perempuan yang aktif, berkarakter kuat, dan berani...

    Indah CahyaJuly 13, 2015
  • Kisah Kulot

    Kembali muncul di panggung runway, celana kulot kini tengah menjadi sorotan. Kehadirannya bagaikan badai yang mungkin tak akan pernah berlalu.

    Beri AllenJune 17, 2015
  • Demam Denim

    Material denim kembali menguasai panggung mode dunia.

    Christina M. AndersonMay 16, 2015
House of Harlow 1960