Connect
To Top

Kehidupan Sempurna di Media Sosial: Antara Harapan dan Kenyataan

Madison Holleran (19 tahun), perempuan muda dengan segudang prestasi itu memutuskan bunuh diri pada 17 Januari 2014. Padahal kehidupannya di media sosial tampak sempurna. Benarkah usahanya tampil sempurna untuk menyembunyikan sakit mental yang dideritanya?

Hidup penuh kejutan dan sering diluar dugaan. Seperti Madison Holleran (19 tahun), perempuan muda yang dianggap memiliki kehidupan sempurna dengan segudang prestasi itu tanpa diduga memutuskan mengakhiri hidupnya pada 17 Januari 2014. “It feels like one day she was happy, the next she was sad, and the day after she was gone,” kata Carli tentang kematian adiknya (Kate Fagan, Split Image, ESPN).

Kamatian Madison kembali mengemuka setelah orang tuanya merilis catatan bunuh diri Madison pada peringatan setahun kematiannya (Suicide Note, Daily Mail). Menyusul itu, 17 Mei 2015, ESPN, media olahraga terkemuka menyajikan kisah kematian Madison Holleran secara lengkap dan rinci. Bagi saya, menjadi menarik bukan semata-mata isi reportasenya yang luar biasa, tapi kesimpulan Kate Fagan, sang penulis dalam melihat kehidupan Madison Holleran. “On Instagram, Madison Holleran’s life look ideal: star athlete, bright student, beloved friend. But the photos hide the reality of someone struggling to go on.” Senada dengan Fagan, John Bowman (CBC News) menulis, “Her Facebook life looked perfect. Madison Holleran suicide highlights how social media masks mental illness.”

Benarkah Madison berusaha tampil sempurna—di media sosial—untuk menyembunyikan beban hidupnya yang berat, dan mengakhirinya dengan bunuh diri? “Why did a popular, smart, athletic college freshman kill herself?” Ungkap Nicole Weisensee Egan seperti mewakili pertanyaan banyak orang. Benarkah Madison menderita sakit mental?

Kampus dan Bunuh Diri

Madison Holleran lahir dan besar di New Jersey, Amerika Serikat. Dia adalah anak ketiga dari lima bersaudara (satu laki-laki, tiga perempuan) hasil perkawinan Jim dan Stacy Holleran. Masa kecil Madison terbilang bahagia. Memasuki usia belasan, dia tampil sebagai remaja berprestasi di bidang olahraga, lari dan sepakbola. Prestasinya itu pula yang telah membawanya memasuki Universitas Pennsylvania.

Orang-orang di sekitarnya mengenal Madison sebagai perempuan cantik, berbakat, dan sukses. Sosok impian banyak perempuan seusianya. Meski begitu, prestasi dan popularitasnya tak mengubah dia menjadi seorang diva yang haus sanjung puja. Dia tetap ramah, murah senyum dan dikenal baik oleh lingkungannya. Namun, Madison juga adalah seorang perfectionist yang selalu berusaha menampilkan dirinya sesuai dengan gambaran orang tentang dia (Fagan, opcit).

Apakah karena itu Madison depresi lalu bunuh diri? Beberapa pengamat melihatnya demikian. Besarnya tuntutan terhadap prestasi akademik mahasiswa menjadi salah satu penyebab seseorang tertekan dan mengakhirinya dengan bunuh diri. Tekanan semakin kuat saat menimpa orang yang juga punya kecenderungan perfectionist seperti Madison. Rasa cemas dan khawatir mengalami kegagalan terus menghantuinya. Dia sangat tertekan menghadapi tuntutan prestasi akademik hingga merasa akan gagal dalam studinya meski berhasil meraih ideks prestasi 3.5, kata Fagan dalam sebuah wawancara dengan Bill Littlefield (Penn Athlete’s Life And Death Inspires Social Media Movement).

Madison adalah mahasiswa ketiga dari enam mahasiswa di Univesitas Pennsylvania yang memutuskan bunuh diri dalam rentang waktu 13 bulan (Julie Scelfo, Suicide on Campus and the Pressure of Perfection). Tahun ini (2015), peristiwa serupa terjadi juga di Tulane University, Illnois, Amerika Serikat. Tercatat ada empat orang mahasiswanya yang bunuh diri. Appalacian State University juga kehilangan tiga orang mahasiswanya karena gantung diri. Sepanjang 2009—2010 ada enam mahasiswa Cornell University yang bunuh diri. Terakhir, tercatat lima orang mahasiswa New York University yang memutuskan bunuh diri.

Menghindari Stigma dan Prasangka

Seperti kebanyakan perempuan muda seusianya, semasa hidup Madison aktif di media sosial. Sebatas di Instagram dan Facebook, kehidupannya tampak baik-baik saja, bahkan terlihat bahagia. Itu diakui ibunya sendiri. “You look like you’re so happy at this party,” kata Tracy Holliran seperti dikutip Fagan saat melihat foto-foto putrinya di Instagram. Namun, seperti kesimpulan Fagan dan beberapa penulis lain, kehidupan Madison tak seindah tampilannya di media sosial. “It’s just a picture,” kata Madison sendiri pada ibunya.

Sudah setahun Madison tiada. Tak ada yang bisa memastikan, apakah pernyataannya itu merupakan penyangkalan atas penilaian orang tentang kehidupannya yang tampak sempurna. Tapi jika merujuk pada hasil survey Girl Scouts Research Institute (GSRI) kemungkinan penyangkalan itu ada. GSRI melaporkan sekitar 47 persen perempuan berusia 14-17 tahun mengaku menggunakan media sosial untuk menampilkan dirinya lebih hebat dari kenyataan yang sebenarnya (Girl Scouts Research Institute, Who’s That Girls?: Image and Social Media Survey, 2010).

Senada dengan itu, Anne Reeves mencatat, di media sosial orang sering membesar-besarkan sesuatu, dan hanya menampilkan sisi terang kehidupannya, padahal itu palsu (Anne Reeves, Our Social Media Feeds Don’t Depict Real Life). Kita tidak pernah tahu di balik tampilan kehidupan yang sempurna itu, seseorang justru tengah berjuang mati-matian untuk mewujudkannya. Dalam konteks ini, cukup sukar untuk membuktikan, apakah tampilan kehidupan seseorang di media sosial benar-benar kenyataan hidup yang dialaminya, atau sebuah harapan yang diimpikannya.

Menurut Shalini Lal, spesialis kesehatan mental remaja di Universitas Montreal, salah satu penyebab orang enggan mengemukakan beban hidupnya—diserang rasa cemas, stress, dan depresi—di media sosial adalah untuk menghindari stigma dan prasangka tentang penyakit mental (Bowman, opcit). Banyak orang masih menganggapnya sebagai masalah kegilaan, sehingga si penderita berusaha menyimpannya rapat-rapat. Itulah sebabnya, orang-orang yang mengidap penyakit mental serius senantiasa menghadapi tantangan ganda (Patrick W. Corrigan dan Amy Watson, Understanding the Impact of Stigma on People with Mental Illness). Di satu sisi mereka harus berjuang melawan penyakitnya; sekaligus ditantang menghadapi stereotipe, prasangka dan stigma tentang penyakit mental. Karena itu pula orang lebih suka mengungkapkan sisi kehidupannya yang paling bahagia daripada derita yang dialaminya. Kalaupun orang terbuka membicarakannya, kata Shalini Lal (opcit), belum tentu orang lain tahu bagaimana menanggapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

House of Harlow 1960