Connect
To Top

Inspirasi Personal Andreas Odang

Dalam perhelatan Unveil Wedding Exhibition yang digelar di Shangri-La Hotel, Jakarta, pada awal Juni silam, desainer Andreas Odang menampilkan rancangan busana pengantin dengan tema “Sweet Lullaby”. Tema tersebut merupakan hasil interpretasi terhadap peleburan dua inspirasi yakni kultur negara Spanyol dan Perancis. Sebanyak 31 rancangan yang terbagi menjadi gaun malam, cocktail, dan pengantin, menonjolkan siluet ultra feminin yang menjadi karakter desain dari lulusan sekolah mode Instituto Marangoni di Milan, Italia ini.

Warna Macaroon

Inspirasi Spanyol yang paling kuat terlihat pada garis leher model sabrina serta lengan model terompet yang mengembang dan menyempit di bagian bawah siku yang mengingatkan akan busana tradisi negeri tersebut. Sentuhan veil dari bahan renda yang menjuntai dari tiara ke lantai kian menyiratkan kesan romantik.

Meskipun bukan hal baru, namun memang belum banyak yang berani menghadirkan busana pengantin perempuan berbentuk celana. Mengadaptasi gaya khas Spanyol, Odang mengeksplorasi baju pengantin dengan potongan celana. Di bagian bawahnya, terdapat garis potong sebagai ilusi yang membuat celana tampak lebih mewah, tapi tetap terkesan relaks. “Saya buat gaun pengantin seperti mengenakan celana, tapi dengan gaya lebih romantik. Kenapa saya buat bentuknya celana? Agar tetap bisa dipakai lagi pasca menikah. Sebagai desainer, kenapa play safe? Kenapa nggak unik dan berbeda? Kita tampilkan gaun pernikahan dengan cara baru,” ungkap Odang yang mengaku pula tak takut melakukan eksperimen, bahkan mendorong para desainer untuk berpikir melampaui batas.

Dari Spanyol, kemudian Odang mengalihkan inspirasinya ke negara Perancis, lebih tepatnya toko kue macaroon legendaris di Paris, Ladurèe. Terinspirasi dekade romantik saat berdirinya Ladurée pada tahun 1862, ditampilkan ragam gaun dengan siluet ramping yang elegan. Penggunaan bahan french lace dalam palet warna pastel yang lembut dan powdery seperti halnya macaroon, semakin menonjolkan kesan feminin. “Sebenarnya saya sudah membuat koleksi dengan tema berbeda, tapi saya merasa, kok bukan saya sekali ya. Akhirnya saya memutar otak, untuk mencari ide baru. Kebetulan saya menemukan lagi koleksi buku saya mengenai toko kue Ladurée. Saya pun membaca kembali sejarahnya. Pada jaman itu, perempuan tidak boleh pergi ke kafe, sehingga muncul lah toko ini, toko pertama khusus perempuan,” papar desainer yang merintis kariernya secara profesional tahun 2006 ini.

Siluet Kebebasan

Melengkapi busana pengantin bersiluet ringan, Odang tetap menghadirkan gaun pengantin dengan siluet ballgown yang klasik namun diberi sentuhan baru yang modern dan playful. Siluet ini terinspirasi dari gaya busana Victoria yang dikenakan para perempuan di abad 19 termasuk yang mendatangi Ladurée. Meskipun siluetnya yang dramatis, namun tetap memberikan keleluasaan gerak bagi pengantin.

Diakui Odang bahwa tema “Sweet Lullaby” dipilih lantaran ia ingin menunjukkan sisi manis sekaligus elegan dari gaya perempuan di era tersebut serta ditunjang dengan pemikiran Louis Ernest Ladurée, pendiri toko Ladurée, yang ingin mewujudkan kebebasan dan impian kaum perempuan. “Ia punya semangat dan pola pikir modern yang juga dikenal sebagai penulis yang kritis terhadap reformasi sosial di Paris pada masanya,” tutur Odang. “Kata Lullaby memiliki arti ajakan bukan sekadar memasuki dunia mimpi, namun memiliki mimpi dan merealisasikannya.”

Lebih menonjolkan permainan siluet dan olahan bahan seperti french lace, silk jacquard, shantung, dan tulle, Odang membebaskan rancangannya dari untaian batu permata dan kristal yang umumnya menjadi ornamen andalan untuk busana pengantin. Melalui rancangan ini, ia menunjukkan bahwa nuansa glamor tak selalu harus penuh dengan kilau payet dan kristal. Pilihannya jatuh pada ornamen embroidery. “Pengerjaannya pun menggunakan tangan dan aplikasi payet hanya 10%,” ujar Odang yang menyatakan pula bahwa busana pengantin seharusnya mendukung pemakainya, bukan justru menutupi pemakainya.

Rancangan yang ditampilkan Odang kali ini diakuinya bersifat sangat personal. “Seperti menceritakan perjalanan hidup saya dan mencari jati diri yang tertuang semua dalam koleksi ini. Sampai saya menggunakan lagu dari Secret Garden, “Frozen in Time”, untuk mengiringi show. Karena itu lagu kisah cinta saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Runway

  • Batik Kudus di Pasar Malam

    Melalui label Balijava, Denny Wirawan membuktikan kepeduliannya untuk terus menghidupkan wastra warisan leluhur. Ia kerapkali diundang untuk menampilkan koleksi Balijava di...

    Siti RahmahSeptember 8, 2015
  • Fendi Terus Melaju dengan Fur

    Mengolah kemewahan material faux corduroy, Fendi mendandani laki-laki dengan tampilan beda.

    Christina M. AndersonAugust 28, 2015
  • Dua Sisi Perempuan dalam Busana Couture

    Untuk pertama kalinya desainer Hian Tjen menggelar fashion show tunggal. Dua hal yang membuat pagelaran ini jadi menarik. Pertama, busana yang...

    Siti RahmahAugust 22, 2015
House of Harlow 1960