Connect
To Top

Fashion, Titik!

Fashion yang dibuat tanpa menghormati aspek kemanusiaan, keadilan dan lingkungan disebut fashion. Begitupun yang dibuat secara manusiawi dan memperhatikan lingkungan. Apa yang membedakan keduanya, yang pertama dibuat secara tidak etis, yang kedua dibuat secara etis.

Udara sore itu tidak terlalu panas. Angin berhembus tenang saat matahari kian condong ke Barat. Kami duduk santai di kursi podium sebuah flat di kawasan Jakarta Selatan. Awalnya tak ada topik serius yang kami bicarakan. Ngobrol ringan ngalor-ngidul. Pembicaraan baru agak serius ketika obrolan kami sampai pada topik fashion.

Terdorong oleh satu tulisan yang dimuat di The Actual Style, kawan saya mengemukakan keingintahuannya lebih jauh tentang ‘sustainable fashion’. Menurutnya, jika ada istilah sustainable fashion berarti ada unsustainable fashion.

“Apa dan bagaimana sih sebenarnya istilah sustainable fashion itu?” tanya dia penasaran.

Agak lama saya berpikir. Lalu saya katakan, sebaiknya kita abaikan dulu istilah sustainable-fashion yang berbau marketing dan pencitraan itu sebelum kita selesai membahas soal sustainable dalam fashion.

Fashion sudah seharusnya sustainable (berkelanjutan). Itu jelas. Namun, apa yang dimaksud dengan ‘sustainable’, pemahaman orang beragam. Ada yang mengasosiasikan berkelanjutan dengan ramah lingkungan. Sebagian lagi mengaitkannya dengan hak asasi manusia dan keadilan. Ada pula yang menggabungkan keduanya.

Pandangan-pandangan tersebut tidak salah, karena sama-sama didasari semangat mewujudkan satu model industri yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tanpa mengabaikan kebutuhan dan masa depan generasi yang akan datang (Brundtland dalam Miguel Angel Gardetti dan Ana Laura Torres, Sustainability in Fashion and Textiles: Values, Design, Production and Consumption, 2013, hal. 3). Mewujudkan sebuah iklim industri yang menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis, kreativitas, lingkungan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Isu sustainable dalam fashion mulai mengemuka dibicarakan orang setidaknya sejak tahun 1990-an. Dipicu oleh banyak laporan media tentang buruknya kondisi kehidupan buruh pabrik tekstil dan garmen di negara-negara penyedia tenaga kerja murah seperti Indonesia, Cina, dan India. Di dalamnya menyangkut persoalan upah layak, jaminan kesehatan, jam kerja, dan perlindungan hukum. Pemicu lainnya adalah masalah pencemaran dan limbah pabrik tekstil yang merusak lingkungan. Dua persoalan itulah yang mendorong lahirnya berbagai gerakan dengan semangat sustainable. Sustainable development, sustainable agriculture, green movement, termasuk sustainable di industri fashion.

Di industri fashion, pihak yang menjadi sasaran kritik adalah brand-brand fast-fashion, seperti GAP, Zara, Mango, H&M, dan Forever 21. Istilah fast-fashion sendiri mengacu pada koleksi baju murah yang desainnya meniru tren busana mewah (Annamma Joy, John F. Sherry, Jr, Alladi Venkatesh, Jeff Wang and Ricky Chan, Fast Fashion, Sustainability, and the Ethical Appeal of Luxury Brands, Fashion Theory, 2012, Volume 16, Issue 3, hal. 273).

Banyak temuan yang menunjukkan brand fast-fashion memperlakukan buruhnya secara tidak manusiawi. Antara lain bisa kita saksikan dalam film dokumenter John Pilger, The New Rulers of the World, buku Lucy Siegle, To Die For: Is Fashion Wearing Out The World, dan We Are What We Wear: Unravelling Fast Fashion and the Collapse of Rana Plaza,Tansy E. Hoskins, Stitched Up: The Anti-Capitalist Book of Fashion, serta film dokumenter The True Cost.

“Oke, sampai di situ, aku bisa menangkap penjelasanmu,” potong kawan saya. Sebut saja, Shasha. “Jika kita bicara sustainable fashion, eh sorry, maksudku sustainable dalam fashion, itu artinya kita bicara soal berkelanjutan mulai dari hulu sampai hilir. Itu artinya, menyangkut semua aspek supply chain (rantai pasokan) dalam industri fashion. Pertanyaanku selanjutnya, apakah baju-baju fast-fashion dengan sendirinya bisa disebut unsustainable fashion? Lalu, apa disebutnya baju-baju karya seorang desainer yang menggunakan pewarna alam tapi membayar upah buruhnya di bawah standar? Sustainable-fashion atau unsustainable fashion?”

Shasha, kawan satu ini memang kritis. Saya senang dengan kejaran pertanyaan skeptis seperti itu, sehingga diskusi jadi berkembang.

Menanggapi itu, saya setuju pada pendapat Orsola De Castro, pendiri Estethica Programme London Fashion Week, inisiator Fashion Revolution Day dan pendiri upcycling label, From Somewhere. Dia mengatakan, “don’t call it that (sustainable fashion-ed)! Don’t ever ever put the words ‘fashion’ and ‘sustainability’ too close together. There has to be something in between, otherwise it makes no sense” (Jorinde Croese, Anything but Sustainable Fashion: Orsola De Castro, 2015).

Fashion adalah fashion. Fashion sudah seharusnya berkelanjutan, dalam makna kreativitas, bisnis dan rantai pasokannya harus terus dikembangkan dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan dan kemanusiaan. Makna berkelanjutan tidak hanya menyangkut soal hubungan manusia dan lingkungan, juga hubungan di antara manusia, komunitas dan institusi-institusinya (Seidman dalam Annamma Joy dkk., ibid, hal. 274).

Prinsipnya adalah “menghormati manusia (di semua tingkatan organisasi), masyarakat yang terlibat dalam rantai pasokan; menghormati bumi, mengakui bahwa sumber daya itu terbatas; serta meraih keuntungan karena mentaati prinsip-prinsip tersebut” (Langenwater dalam Annamma Joy dkk., ibid, hal. 275).

Fashion yang diproduksi dengan tidak menghormati aspek-aspek kemanusiaan, keadilan dan lingkungan seperti cara produksi fast-fashion, tetap disebut fashion. Begitupun dengan fashion yang diproduksi secara lebih manusiawi dan memperhatikan lingkungan. Apa yang membedakan keduanya, yang pertama dibuat secara tidak etis, sedangkan yang kedua dibuat secara etis. Jika memang harus diberi nama, seperti kata De Castro,“call it anything but sustainable fashion” (Jorinde Croese, ibid).

1 Comment

  1. yani

    August 13, 2015 at 10:35 pm

    Karena fashion anak buah peradaban, sepatutnya memulyakan manusia dan alam.
    Suka banget artikel ini.

    ciao

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ethical Fashion

House of Harlow 1960