Connect
To Top

Fashion Indonesia di Angka 70

Apakah karena menggunakan kain batik Solo busana model pleated dress ala Givenchy rancangan desainer Indonesia bisa disebut khas Indonesia? Apakah karena menggunakan kain tenun ikat dan batik, rancangan Dries Van Noten pun bisa disebut khas Indonesia? Seperti apa sebenarnya fashion Indonesia kekinian itu?

Berawal dari sebuah blog foto eksperimental (Sadikingani.com), dilanjutkan dengan mendirikan The Actual Style dan terakhir The EDIT Post, sedikit demi sedikit saya mulai menjajaki dunia fashion di tanah air. Setidaknya mulai banyak bersentuhan dengan peristiwa-peristiwa bertajuk fashion. Masih sangat baru, tidak lebih dari dua setengah tahun. Itu pun sebatas pengamat dan pendokumentasi foto.

Indonesia Fashion Week 2013 adalah momen pertama saya menyaksikan acara fashion show secara langsung. Di momen itu pula pertama kali saya mengambil gambar fashion show. Tak ada yang saya kenal di belantara asing ini. Benar-benar dunia baru. Dunia yang tak pernah saya bayangkan akan disinggahi setelah lebih dari sepuluh tahun hanya mondar-mandir di acara seminar, simposium, dan workshop penelitian sosial.

Beruntung, latar belakang pendidikan saya antropologi, sehingga tidak terlalu asing mengikuti wacana fashion dalam kerangka sosial, budaya, ekonomi dan politik. Selain tentu saja karena ada rasa ingin tahun dan punya ketertarikan untuk membahasnya. Tapi, jangan tanya soal fashion dari sisi desain. Saya benar-benar buta soal itu.

Di pertengahan tahun pertama, saya berkenalan dengan Jakarta Fashion Week melalui The Actual Style. Rasa ingin tahu saya semakin menjadi. Terutama soal sejarah fashion, industri/bisnis fashion, dan media/jurnalisme fashion. Tak ada jalan lain selain harus mencari sumber bacaan. Di internet sungguh melimpah, tapi harus skeptis dan selalu melakukan verifikasi pada setiap sumber yang ditemui. Tak hanya sumber online, saya pun mencarinya lewat sumber bacaan konvensional, buku cetak. Sumber lainnya adalah berdiskusi dengan orang yang relatif tahu soal fashion dan terlibat di dalamnya.

Semakin banyak membaca, semakin bertambah pula rasa ingin tahu. Semakin banyak mencari tahu, kian sadar banyak hal yang belum saya tahu. Begitu pun saat saya menyaksikan berbagai acara pagelaran fashion di Jakarta. Seperti apa sebenarnya fashion Indonesia kekinian yang bisa disebut khas Indonesia? Apa bedanya dengan fashion ala Eropa dan Amerika?

Sampai saat ini saya belum menemukan literatur yang khusus membahas itu. Karena itu, saya akan mencoba menelusuri sendiri berdasarkan pengamatan saya selama mondar-mandir dari satu pagelaran fashion ke pagelaran fashion lainnya.

Bicara fashion Indonesia, para pelaku fashion—desainer/label fashion­—dan media punya kecenderungan membatasinya berdasarkan material/kain khas Indonesia, seperti batik, songket, ikat dan lain-lain. Dari sisi desain, kebaya yang sudah dimodifikasi juga kerap disebut sebagai busana khas Indonesia kekinian. Ada pula yang menerjemahkannya sebagai karya desainer dan label fashion buatan orang Indonesia, atau yang berbasis di Indonesia.

Kedua batasan itu sangat cair sehingga bisa mengundang kontroversi berkepanjangan. Sebagai contoh, seorang desainer Indonesia menggunakan kain batik untuk busana model pleated dress, apakah bisa disebut fashion khas Indonesia? Kain yang dipakai memang batik Solo, tapi yang menjadi focal points rancangannya jelas-jelas cutaway shoulders, seamed bodice, dan skirt ala Hubert De Givenchy (Prancis). Sebaliknya, apakah bisa rancangan Dries Van Noten (Belgia) disebut fashion khas Indonesia hanya karena menggunakan kain tenun ikat dan batik dari Indonesia? Membingungkan bukan?!

Jadi, seperti apa sebenarnya fashion Indonesia kekinian itu, adalah pertanyaan yang masih harus menanti jawaban dalam waktu cukup panjang. Tidak mudah memang, tapi bukan hal yang mustahil dikerjakan. Akan sangat melelahkan, tentu saja. Memang bukan pekerjaan sekejap untuk bisa mengatakan pada dunia, “ini loh fashion Indonesia kekinian yang berbeda dengan fashion Eropa dan Amerika.” Sama tidak mudahnya dengan membangun pondasi kepercayaan diri untuk menghadapi kerasnya persaingan bisnis fashion di panggung dunia.

Sebagai catatan dari seorang yang baru berkenalan dengan dunia fashion di tanah air, tulisan ini mungkin terlalu menyederhanakan masalah. Namun begitu, mudah-mudahan saja bisa dijadikan bahan renungan di hari peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-70, 17 Agustus 2015. Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

House of Harlow 1960