Connect
To Top

Fashion, Domain Produksi Budaya Gay

Fashion sudah menjadi domain produksi budaya kaum gay lebih dari 300 tahun, dan memberi dampak besar terhadap sejarah fashion hingga kini.

“Fashion adalah queer dan kita tahu itu. Jadi, mengapa kita tidak membahasnya? Dari Christian Dior hingga Yves Saint Laurent dan Alexander McQueen dan banyak desainer besar di dunia ini adalah gay,” (Fashion Institute of Technology/FIT). Kenyataan itulah yang mendasari Valerie Steele dan Fred Dennis (keduanya kurator museum FIT, New York, Amerika Serikat) menggagas sebuah eksibisi bertajuk A Queer History of Fashion: From the Closet to the Catwalk (13 september–4 Januari 2014). Untuk mempersiapkannya, selama dua tahun mereka melakukan penelitian dan kurasi atas karya-karya desainer LGBTQ. “Ini seperti membuka rahasia yang semua orang sudah tahu, tetapi tidak benar-benar membahasnya,” kata Steele dalam siaran pers FIT, 02 Juli 2013.

Menurut Dennis, eksibisi yang berlangsung sekitar 3 bulan itu merupakan penghargaan kepada desainer-desainer gay dan lesbian di masa lalu hingga sekarang. “Dengan mengakui kontribusi mereka dalam fashion, kami ingin mengajak orang untuk menerima keragaman,” tegasnya.

Steele dan Dennis berharap upaya mereka akan mengubah pemahaman kita tentang sejarah. Selama bertahun-tahun kaum gay dan lesbian tersembunyi dan seolah-olah hilang dari sejarah, termasuk sejarah fashion. Dengan mengakui pengaruh dan peran mereka dalam fashion dan gaya berpakaian, kita akan melihat bagaimana budaya gay telah mengambil peran sentral dalam mengkreasi fashion modern, papar Steele dalam pidatonya di simposium “A Queer History of Fashion (1:33-39).

LGBTQ

Istilah LBGT (lesbian, biseksual, gay, dan transgender) mengemuka sekitar 1990-an. Digunakan untuk menunjuk identitas homoseksual, biseksual dan transgender. Istilah LGBT lantas mengalami perkembangan. Salah satunya dengan penambahan “Q”, menjadi LGBTQ. “Q” kependekan dari “questioning“ atau “queer” (Michael Schulman, Generation LGBTQIA, The New York Times). Dipakai untuk menunjuk mereka yang masih mempertanyakan identitas seksualnya. Muncul pula istilah LBTQI dan LGBTIA. “I” singkatan dari “intersex” (seseorang yang memiliki anatomi tidak ekslusif laki-laki maupun perempuan); sedangkan “A” kependekan dari “ally” (a firiend of cause) atau “asexual” dengan ciri tidak adanya daya tarik seksual (Schulman, ibid).

Menyangkut penggunaan istilah LGBT, di antara kaum homoseksual sendiri terjadi pro dan kontra. Satu pihak menganggap homoseksual dan biseksual berbeda dengan transgender, sehingga tidak bisa diseragamkan. Sementara pihak lainnya memandang, baik homoseksual maupun transgender adalah kaum yang secara sosial, budaya dan politik cenderung diabaikan di masyarakat dan mendapat perlakuan tidak setara dibanding mereka yang heteroseksual.

Terlepas dari perdebatan itu, semua pihak tampaknya setuju, bahwa LGBTQ sebagai identitas maupun gerakan sosial berangkat dari semangat pengakuan terhadap keragaman sosial dan budaya atas dasar identitas seksual dan gender. Menjunjung tinggi kemanusiaan, menghargai perbedaan, dan menegakkan kesetaraan adalah kata kuncinya.

Gay dan Fashion

Di dunia fashion peran kaum LGBTQ memiliki pengaruh besar. Meski tidak semua desainer fashion adalah gay, sudah sejak lama fashion menjadi domain kaum gay (5 Greatest Gay Designer, Queerty). Desainer-desainer terkenal seperti Karl Lagerfield, Alexander McQueen, Christian Dior, Cristóbal Balenciaga, Yves Saint Laurent, Marc Jacobs, Tom Ford, John Galliano, Gianni Versace, Valentino Garavani, Calvin Klein, Michael Kors, Christopher Bailey, dan Alexander Wang—untuk menyebut sebagian kecil—adalah gay.

Melihat kecenderungan itu saya dan mungkin Anda lantas bertanya, apa yang membuat kaum gay begitu dekat dengan fashion?

“Ini rumit, karena melampaui apa yang kita pikirkan. Mencakup seluruh sejarah penindasan dan kerahasiaan di seputar seksualitas gay yang selama bertahun-tahun dianggap ilegal dan dituding sebagai penyakit mental,” kata Steele kepada Nakiska (A Queer History of Fashion, Dazed). Hal itulah yang lantas menumbuhkan kesadaran di kalangan kaum gay dan kaum lesbian bagaimana mereka membaca, menganalisis dan mengenakan pakaian sehingga dengan cara itu bisa saling berkomukasi di tengah kehidupan masyarakat yang homophobic.

Aspek lainnya, kata Steele, fashion adalah salah satu profesi ‘artistik’, dan kaum gay banyak terlibat di dalamnya. Hal itu memungkinkan mereka bisa diterima dan masuk ke dalam industri fashion, setidaknya sejak 1920-an. Namun, ketertarikan kaum gay pada fashion sendiri sudah ada jauh sebelum itu, sekitar abad ke-18 dan 19.

“Fashion sudah menjadi situs produksi budaya kaum gay lebih dari 300 tahun, dan memberi dampak besar terhadap sejarah fashion,” kata Steele seperti dikutip Suzy Menkes (Out of the Closet, The New York Times). Menurutnya, minat mereka terhadap fashion didasari hasrat mengekspresikan diri melalui cara-cara non-lisan, yakni menciptakan sebuah alternatif dunia kecantikan (Steele dalam Nakiska, ibid).

Stonewall, Awal Era Keterbukaan

Kenyataan bahwa kaum gay memiliki peran penting dalam fashion tidak berarti seseorang bisa dengan mudah menyatakan identitas seksualnya. Di Indonesia, beberapa orang yang saya kenal mengaku tahu bahwa desainer A adalah gay, desainer B berpasangan dengan sesama laki-laki, desainer C yang punya istri menjalin hubungan dengan laki-laki D, dan seterusnya. Tapi itu hanya beredar dari mulut ke mulut dalam obrolan warung kopi. Sulit membuktikan kebenarannya, kecuali ada yang secara terbuka sanggup menyatakan jati dirinya.

Upaya merahasiakan indentitas seksual tidak hanya terjadi di sini. Di Amerika–negara yang kita anggap lebih terbuka– sebelum peristiwa Stonewall (28 Juni 1969), kaum gay dan lesbian yang bekerja di industri fashion berusaha menyembunyikan identitas seksual mereka untuk menghindari pemecatan, penangkapan dan pemerasan (Steele dalam Paul Hibert, Looking Back at Fashion’s Queer History, Pacific Standard). Baru setelah peristiwa itu orang mulai banyak yang bersedia menyatakan identitas seksualnya secara terbuka.

Stonewall Inn, yang biasa juga disebut Stonewall adalah nama sebuah club tempat berkumpulnya kaum gay, lesbian dan para seniman. Terletak di Greenwich Village, Manhattan, New York. Pada 28 Juni 1969 tempat itu digerebek polisi dengan tuduhan menjadi tempat penjualan alkohol ilegal. Selain itu, bar yang melayani kaum gay dan lesbian dianggap ilegal (The Historic Stonewall Inn).

Dalam peristiwa itu polisi melakukan penggeledahan dan penangkapan. Saat para pengunjung bar diusir ke luar, tidak terjadi perlawanan apa-apa. Orang-orang hanya berkerumun di jalan, berbaur dengan orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Suasana menjadi panas ketika salah seorang yang ditangkap melakukan perlawanan saat dipaksa masuk ke dalam mobil polisi. Dalam waktu singkat suasana pun berubah, dari pasif menjadi defensif. Terjadilah bentrokan dengan polisi bersenjatakan batu dan botol. Kejadian itu memakan korban luka-luka dari kedua belah pihak.

Keesokan harinya, demonstrasi dan perlawanan terhadap polisi terus berlanjut. Ada sekitar 1.000 orang demonstran yang turun ke jalan. Bentrokan pun tak dapat dihindari, disusul dengan pembakaran dan penjarahan toko-toko. Peristiwa yang terjadi 46 tahun silam itu oleh komunitas LGBT diperingati sebagai momentum bangkitnya LGBT melawan sistem hukum diskriminatif.

Hal yang menarik dicatat dari peristiwa Stonewall, bukan saja peristiwa itu telah mendorong iklim keterbukaan dan tuntutan kesetaraan kaum LGBT, juga mempengaruhi dinamika perkembangan fashion dan style. Sebelum peristiwa Stonewall, gay dan lesbian menandai jati dirinya dengan gaya pakaian laki-laki kelas atas, tuksedo. Setelah peristiwa itu, kecenderungan berubah ke arah gaya laki-laki pekerja bertubuh kekar dengan celana blue jeans sebagai focal point-nya. Menurut Steele, perubahan tersebut merupakan bagian dari perluasan ideologi Amerika dan budaya egalitarian kaum muda. “Everyone was wearing blue jeans: it was young, it was unisex, it was everything all at once” (Paul Hiebert, opcit.). Melalui gaya itu kaum gay hendak menyatakan, “sebagai seorang gay, tidak berarti tidak maskulin”.

Simak Pidato Valerie Steele dalam Simposium A Queer History of Fashion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

House of Harlow 1960