Connect
To Top

Dunia Style dan Travel Khairiyyah Sari

Dibayar untuk nyinyir mengritisi penampilan orang? Profesi sebagai Konsultan Penampilan yang digelutinya memungkinkan untuk itu.

Setiap kali mau pergi kerja selalu bingung memilih busana yang tepat? Tenang saja, Anda tak sendiri. Masalah ini banyak ditemui pekerja urban, terutama kaum perempuan. Memilih busana kerja memang tak boleh sembarangan. Salah-salah, bisa menciptakan imej yang tak sesuai harapan. Bukannya menunjang karier, justru malah mempertaruhkannya. Untuk itulah, turun tangan Khairiyyah Sari sebagai Konsultan Penampilan diperlukan. Namun, dibandingkan negara maju lainnya, peran konsultan penampilan di Indonesia masih dianggap tak penting. Tak heran bila yang menggeluti profesi ini terbilang langka.

Pernah Terpikir Jadi Desainer

Menurut pengamatan Sari, di Indonesia belum banyak orang paham tentang aturan berpakaian sesuai usia, kepribadian, bentuk tubuh, dan aktivitas maupun pekerjaan. Seperti warna yang cocok dengan jenis kulit, desain yang tepat untuk mengoreksi bentuk tubuh, dan lainnya. Sedangkan pakar di bidang ini masih terbilang jarang. Kondisi itulah yang menantangnya menjadi Konsultan Penampilan.

tep-sari-sdk-2

Khairiyyah Sari / Foto: Sadikin Gani

Selama 7 tahun, Sari bekerja sebagai Fashion & Beauty Editor di majalah wanita ternama. Lulusan jurusan Ilmu Psikologi ini pernah mengambil diploma Fashion Styling di Fashion Institute of Technology (FIT), New York, Amerika Serikat, serta kesempatan magang di New York Fashion Week. Bukan hanya itu, ia dinobatkan sebagai Finalis Wajah Femina 1996 dan Harapan I None Jakarta DKI 1996. “Berbekal pengalaman tersebut dan ditunjang dengan skill bicara di depan publik, sejak 2011 saya mulai menekuni profesi sebagai Konsultan Penampilan yang saya harap bisa saya lakukan sampai tua nanti,” papar Sari yang pernah bekerja sebagai Reporter & Presenter Berita di suatu stasiun televisi swasta ini. “Sewaktu kecil dan belum tahu ada profesi sebagai fashion editor dan fashion stylist, saya terpikir menjadi desainer. Tapi rasanya tidak mungkin karena saya tidak jago menggambar dan hitung-hitungan ha ha ha…”

Berawal dari hanya menangani klien personal yang merupakan teman dan kerabat dekat, kemudian Sari dipercaya kalangan profesional, selebriti, ekspatriat, politisi, dan pejabat. Kliennya berasal dari kalangan premium. Sebagai Konsultan Penampilan, ia berperan memoles penampilan seseorang secara keseluruhan, mulai dari ujung kepala sampai kaki. Bukan hanya busana dan aksesorinya, termasuk juga rias wajah dan tata rambut. Dengan menangani klien dari kalangan premium, ia juga mengarahkan barang-barang apa saja yang klien pakai, termasuk menentukan brand yang sesuai.

Dari menangani klien personal, kemudian Sari merambah dengan memberikan workshop dan training tentang penampilan bagi para karyawan di sejumlah instansi, antara lain hotel, perusahaan swasta, dan BUMN. Salah satunya, ia diminta untuk memberikan pelatihan kepada 42 presenter di suatu stasiun televisi swasta di Jakarta.

Happy dengan Diri Sendiri

Menekuni profesi ini diakui oleh Sari memiliki tantangan tersendiri. Di antaranya ketika harus berterus terang mengoreksi penampilan klien. Pasalnya, tak semua klien mau menerima saran dengan terbuka. Sehingga ia dituntut mampu meredam ego kliennya. “Sampai saya pernah dibilang bitchy ha ha ha… Padahal tugas saya memang harus mengatakan yang sebenarnya, bukan memuji saja. Jadi, saya harus hati-hati menyampaikan kritik. Setiap kali akan make over klien, saya selalu bilang bahwa masukan atau kritikan yang saya sampaikan untuk menyempurnakan penampilan klien,” ujar kelahiran 1976 ini.

Terbiasa menangani model bertubuh ideal semasa bekerja sebagai Fashion Stylist, tentu menjadi tantangan tersendiri ketika menyiasati tubuh orang kebanyakan yang kerapkali perlu dikoreksi. “Dari memegang model, saya harus switch ke orang biasa, tentu susahnya minta ampun dan butuh effort yang tinggi,” kata Sari. Bukan hanya itu, ketika memberikan arahan kepada klien yang berusia terpaut jauh, terkadang ada yang ragu dan mempertanyakan kompetensinya karena dianggap masih muda. Beruntunglah, latar pendidikan formal di bidang psikologi dapat membantunya dalam memahami personaliti setiap orang dan pendekatan komunikasi yang tepat. Untuk menumbuhkan kepercayaan klien, ia juga menunjukkan percaya diri dan rasa nyaman terhadap dirinya sendiri.

Seperti yang diakui oleh Sari, bahwa tak ada jaminan arahan yang diberikannya kepada klien akan diterima dengan lapang dada. Sebab, ia dan klien adalah pribadi yang berbeda dengan selera gaya yang berbeda pula. Namun baginya, setiap orang harus menemukan karakter gayanya sendiri yang membuatnya nyaman. “Saya harus membuat mereka happy dengan diri mereka sendiri. Jadi, kalau klien sulit menerima seutuhnya saran saya, bisa diambil jalan tengah. Supaya disepakati yang membuat dia tetap nyaman, tapi saya juga tetap enak melihatnya,” tutur perempuan campuran Sunda dan Aceh ini.

Tak hanya puas dengan kemampuan yang telah dimilikinya, Sari selalu tergerak untuk memperkuat ilmu terkait penampilan. Tanpa pikir panjang, ketika melihat informasi training for trainer tentang world class business etiquette di Etiquette Outreach, New York, ia langsung menyambutnya. Ia juga dipercaya menjadi dosen tamu di Advokasi Universitas Indonesia, jurusan administrasi dan sekretaris.

Fashion Itu Jangan Dibawa Serius

Dari kecil, berbeda dengan anak-anak seusianya, Sari telah memiliki minat yang kuat pada penampilan. Bukan hanya menata gaya penampilannya sendiri, bahkan dengan senang hati, ia kerap memberikan arahan soal fashion dan kecantikan kepada teman-temannya. Sang ibu punya pengaruh dalam mengarahkannya. “Saya suka banget dengan gaya vintage. Karena dari kecil biasa diajak Ibu ke flea market dan vintage market kalau traveling ke luar negeri. Jadi, saya sudah dilatih untuk memadu-padankan barang vintage,” kenangnya.

Styling dan traveling, itulah dua hal yang fokus ditekuni Sari. Seringkali traveling sejak kecil, ia mengaku dapat kesempatan melihat banyak gaya perempuan di berbagai negara sehingga menambah referensinya. Setiap kali traveling, dari kecil ia selalu memperhatikan atribut yang akan dibawanya. Salah satu kriterianya adalah menarik untuk dipakai saat foto. Melalui website yang dirilisnya, www.thestyletravelista.com, Sari menceritakan pengalamannya saat menjelajahi berbagai kota dan negara di dunia. Termasuk pula panduan berbusana dan packing untuk perjalanan bisnis atau pelesiran. Memperhatikan penampilan saat traveling antara lain lantaran foto adalah memorabilia yang berharga. Ketika diabadikan, kondisi busana harus menarik dilihat. Selain itu, ia mengarahkan pengambilan foto secara estetika. “Jangan mengambil foto dengan angle yang pasaran seperti yang dilakukan banyak orang. Karena foto akan menjadi kenangan seumur hidup,” saran Sari yang berencana merayakan ulang tahunnya ke-40 di Maroko.

Di website tersebut, ia juga memberikan rekomendasi tempat menarik yang belum banyak terekspos dan didatangi turis, termasuk tempat belanja. “Buat saya, traveling tujuannya for my soul. Saya menghindari tempat-tempat mainstream yang ramai didatangi turis dan ikut tur yang waktunya padat sehingga terburu-buru dan dipastikan tidak bisa menikmati perjalanan. Saat traveling, saya selalu berinteraksi dengan warga setempat. Itu salah satu esensi dari traveling,” ungkap traveler yang pernah mengalami perjalanan spiritual sewaktu ke India ini.

Bohemian eclectic. Begitu Sari memberi label atas gaya penampilannya. Sentuhan eklektik dari sepatu dan aksesori tak absen melekat pada tubuhnya. Baginya, sepatu dan anting sangat esensial. Sejak kecil pula ia telah tergila-gila sepatu. “Dulu kalau naksir cowok, saya melihat sepatunya ha ha ha… Bukan dari segi mahalnya, tapi modelnya,” ujarnya. Dalam mengarahkan klien, ia tak bosan untuk mengingatkan agar tak mengabaikan sepatu, “Masih banyak yang tidak menganggap penting sepatu dan aksesori lainnya. Penampilan dianggap hanya terkait busana.” Bila biasanya sepatu highheels menjadi andalan utama kaum perempuan, Sari mengaku lebih nyaman dengan sepatu flat. Anggapan bahwa sepatu tanpa hak tinggi tak membuat percaya diri, tampaknya tak berlaku baginya. “Fashion itu jangan dibawa serius, karena kita harus having fun with our wardrobe,” pesannya.

Melihat masih banyak salah kaprah masyarakat kita dalam menata penampilan, ia tengah berkolaborasi dengan desainer Auguste Soesastro untuk membuat buku tentang panduan berbusana. Dari minatnya pada fashion dan kegemarannya pada traveling, kini Sari merintis SG Kreasi Indonesia, usaha barunya yang fokus menangani promosi fashion, seni, dan budaya Indonesia ke negara luar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Portrait

  • Kunci Bahagia Oky Setiarso

    Setiap anak berhak atas kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. @kelasbelajaroky melakukan langkah-langkah kecil yang berkesinambungan untuk mewujudkannya.

    Maeya ZeeAugust 10, 2015
  • Mark Reay: Model dan Fotografer Fashion Tunawisma

    Pernahkah Anda menduga fotografer yang bekerja untuk Diane von Furstenberg (DVF), Rebeca Taylor, Calvin Klein, dan Lacoste adalah seorang tunawisma? Pernahkah...

    Sadikin GaniAugust 8, 2015
  • Chef AB & Barista Aga: Maskulinitas dalam Ruang Kuliner

    Semakin menggeliatnya sektor kuliner di negeri ini, berdampak pada tersohornya profesi yang selama ini nyaris terlupakan: chef atau juru masak dan...

    Siti RahmahJuly 19, 2015
House of Harlow 1960