Connect
To Top

Dua Sisi Perempuan dalam Busana Couture

Untuk pertama kalinya desainer Hian Tjen menggelar fashion show tunggal. Dua hal yang membuat pagelaran ini jadi menarik. Pertama, busana yang ditampilkan diklaim sebagai koleksi haute couture. Kedua, di tengah maraknya kampanye ethical fashion, Hian Tjen tampaknya tetap berani menggunakan bulu hewan yang diakuinya hampir 70% merupakan bulu asli.

Untuk pertama kalinya, desainer Hian Tjen menggelar fashion show tunggal yang bertempat di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta. Tertulis dalam undangan dan rilis media yang diterima The EDIT Post bahwa rancangan yang ditampilkan merupakan koleksi lini utama Hian Tjen Haute Couture 2016 dengan mengangkat tema “Chateau Fleur”.

Hian Tjen / Foto: Sadikin Gani

Hian Tjen / Foto: Sadikin Gani

Desainer lulusan ESMOD Jakarta tahun 2003 ini telah membuka butik tahun 2008 dengan memperkuat lini busana pengantin bergaya internasional. “Di dunia wedding, nama aku bisa dibilang sudah cukup dikenal. Klienku sudah cukup banyak, bahkan ada yang dari Malaysia dan Singapura. Tapi di dunia fashion, eksistensi aku memang belum kuat. Karena itu, aku menggelar show tunggal ini,” papar Hian dalam konferensi pers. “Awalnya aku tidak begitu PD (percaya diri) karena aku baru mulai tahun 2008, jadi eksistensiku masih sangat singkat. Tapi banyak pihak yang mendukung aku untuk membuat show tunggal agar semakin banyak yang mengenal karyaku.”

Diakuinya pula, fashion show tunggal ini seakan menjadi beban baginya. “Aku harus memutar otak membuat sesuatu yang baru yang belum pernah orang buat. Sampai akhirnya aku menemukan teknik baru yang bisa membuat baju yang konstruktif tapi tetap terlihat feminin. Aku menggolah banyak fabric berkualitas tinggi dan kaya detail sehingga menjadi sesuatu yang baru,” ungkapnya.

Terinspirasi dongeng di film Perancis, La Belle et la Bete, kastil tua menjadi latar inspirasi bagi Hian untuk bercerita tentang dua sisi sifat perempuan, yakni yang berwatak baik dan bertabiat buruk. Kedua hal tersebut digambarkan melalui simbol warna dan diperkuat dengan aksesori, tata rias dan rambut. Warna merah dan hitam dipilih Hian untuk menggambarkan sifat buruk perempuan. Dipertegas dengan tata rias berwarna gelap dan aksesori berbentuk serangga seperti kumbang bertanduk. Sedangkan sifat baik perempuan dituangkan melalui palet warna pastel seperti baby blue dan krem, serta putih dan keemasan. Ditunjang dengan riasan wajah yang lembut dan aksesori berbentuk kupu-kupu.

Sebanyak 59 busana yang ditampilkan menonjolkan karakter feminin yang selama ini menjadi identitas rancangan Hian. Dengan menggunakan beragam bahan, di antaranya duchess, scuba, tule, satin, dan jacquard, ia menghadirkan siluet yang menunjukkan lekuk tubuh perempuan, mulai dari siluet gaun pendek maupun panjang yang lekat di tubuh, terusan bervolume hingga ballgown. Hian juga menghadirkan kembali siluet ala new look yang pernah dipopulerkan pada tahun 1947 oleh Christian Dior, yang memang menjadi desainer favoritnya.

Hian Tjen / Foto: Sadikin Gani

Hian Tjen / Foto: Sadikin Gani

Selain menghadirkan potongan asimetris, off shoulder, v-neck untuk memperkuat kesan seksi, Hian tak luput mengeksplorasi konstruksi yang kompleks pada bagian dada. “Aku menemukan teknik konstruksi baru yang membuat bahan lace yang lembut bisa berdiri tegak. Aku menggunakan bahan transparan yang cukup keras yang aku temukan di Hong Kong, kemudian bahan itu dilapisi lace. Dengan teknik seperti opnaisel, aku membuat draperi dari bahan lace langsung di manekin. Kalau tidak mengerti tekniknya akan menimbulkan kerut,” tuturnya. Meskipun bisa dibilang bukan hal baru bagi Hian untuk bermain konstruksi, namun beberapa potong busananya yang berlapis dan bervolume terlihat membuat model masih kesulitan saat berjalan.

Aplikasi detail yang rumit, seperti yang dinyatakan Hian, menjadi kekuatan rancangannya. Selain detail dari olahan material seperti teknik draperi dan lipit, ia juga menampilkan aplikasi manik, mutiara, kristal Swarovski, dan bunga. Tak cuma itu, di tengah maraknya ethical fashion (lihat Criteria for Ethical Fashion), Hian tampaknya tetap berani menggunakan bulu hewan yang diakuinya hampir 70% merupakan bulu asli. Di antaranya bulu kelinci yang menjadi ornamen pada cape, bulu ayam yang dirangkai menjadi gaun, ataupun bulu burung yang diuntai membentuk sayap sebagai aksen pada jubah. “Mengapa aku menyebut koleksi ini sebagai haute couture? Yang aku tahu, haute couture adalah baju yang dikerjakan dengan njelimet dan rumit secara handmade. Baju yang aku buat, detailnya sangat rumit dan bisa dibilang semuanya pengerjaan tangan. Untuk pengerjaan tiap baju, ada ribuan mutiara yang ditabur, ratusan bunga yang ditabur. Kalau dilihat dari jauh, rancanganku mungkin terlihat biasa, tapi kalau dari dekat baru kelihatan detailnya,” ujar Hian yang dalam membuat koleksi ini melibatkan sekitar 50 orang dalam timnya dengan waktu pengerjaan sekitar satu tahun.

Hian Tjen / Foto: Sadikin Gani

Hian Tjen / Foto: Sadikin Gani

Dari paparan Hian tersebut, mungkin yang dimaksud lebih tepat disebut couture, bukan haute couture. Sebab untuk memakai istilah haute couture, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi (lihat Strict Rules to Become a Couture House), antara lain merupakan lini custom made yang hanya dibuat berdasarkan pesanan, harus memiliki atelier atau workshop di Paris dengan jumlah staf fulltime setidaknya 15 orang, menggelar dua kali fashion show (dua koleksi musim) dalam satu tahun, dan mendapatkan pengesahan dari Chambre Syndicale de la Haute Couture di Paris (lihat couturiers dan designers anggota Chambre Syndicale de la Haute Couture). Bukan hanya Hian yang kurang akurat dalam memahami haute coture. Masih banyak desainer di tanah air yang masih salah kaprah dalam menggunakan istilah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Runway

  • Batik Kudus di Pasar Malam

    Melalui label Balijava, Denny Wirawan membuktikan kepeduliannya untuk terus menghidupkan wastra warisan leluhur. Ia kerapkali diundang untuk menampilkan koleksi Balijava di...

    Siti RahmahSeptember 8, 2015
  • Fendi Terus Melaju dengan Fur

    Mengolah kemewahan material faux corduroy, Fendi mendandani laki-laki dengan tampilan beda.

    Christina M. AndersonAugust 28, 2015
  • Inspirasi Personal Andreas Odang

    Dalam perhelatan Unveil Wedding Exhibition yang digelar di Shangri-La Hotel, Jakarta, pada awal Juni silam, desainer Andreas Odang menampilkan rancangan busana...

    Christina M. AndersonJuly 14, 2015
House of Harlow 1960