Connect
To Top

Daniel Oscar Baskoro: Teknologi untuk Kemanusiaan

Inovasi teknologi digital yang konsisten dilakukannya berpijak pada kepentingan masyarakat.

Di usia 22 tahun, ia telah bekerja untuk United Nations di Indonesia di bawah bendera tim riset pengembangan teknologi, Pulse Lab. Posisinya sebagai Research Consultant, menantang dirinya untuk menetaskan ide dan inovasi teknologi, serta secara rutin mengerjakan program edukasi digital kepada masyarakat.

Tahun 2014 lalu, ia mendapat penghargaan Global Winner Award dari World Bank, Inspirational Young Leaders dari United Nations Population Fund, dan Best Public Safety App Winner dari AT&T. Sederet apresiasi tingkat nasional dan internasional yang telah ia raih tidak menyurutkan sisi humanis dalam dirinya. Bahkan minat dan bakatnya pada dunia digital semakin mendekatkan gagasan dan inovasinya kepada kepentingan masyarakat.

Akrab dengan Digital

Daniel Oscar Baskoro lahir di Yogyakarta dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai pengajar. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan terhadap komputer dan internet, meskipun kala itu internet masih tergolong langka di Indonesia. “Saya sudah punya email sejak SD. Bahkan saya sudah bermain dengan program Photoshop sejak SD kelas 5,” ujar pemuda yang kerap dipanggil Oscar ini. Akibat gemar mengakses internet, tagihan pulsa telfon rumahnya pun membengkak hingga orang tuanya memutus koneksi internet di rumahnya. Tak lekas patah arang, lantas ia menjadi pelanggan setia paket “happy hour” di warnet saat dini hari. Seakan warnet menjadi “sekolah” baginya untuk mendalami ilmu digital.

Berbagai eksperimen yang dilakukan Oscar yang sempat mengalami trial dan error ternyata membuahkan hasil. Saat menginjak SMP kelas 3, ia menjuarai kompetisi desain website tingkat nasional bertema pendidikan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ketika pelajar lain berlomba-lomba menciptakan desain website untuk sekolah mereka, Oscar memikirkan ide yang berbeda. Ia mendesain situs ayosekolah.com yang bertujuan mengajak anak-anak jalanan untuk mau bersekolah. “Itulah penghargaan yang pertama buat saya dan yang paling berkesan,” tutur mahasiswa jurusan Ilmu Komputer, Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Sejak itu, keinginan Oscar untuk menekuni ranah teknologi digital tak terbendung lagi. Meskipun masih berstatus pelajar dan mahasiswa, berbagai prestasi telah berhasil digapainya, antara lain Think Quest International Achievement dari Oracle Amerika Serikat tahun 2008, Google Student Ambassador for South East Asia dan Google Geo Good People tahun 2013, serta Jenesys Winner dari pemerintah Jepang tahun 2014. Bahkan, ia mendapat kesempatan berkiprah di manca negara dengan melakukan proyek kolaboratif riset teknologi digital di sejumlah kota besar di dunia, seperti Singapura, Hong Kong, Seoul, Tokyo, Sydney, London, Paris, San Francisco, Honolulu, dan pada Maret tahun ini di Sendai, Jepang. “Saya telah mengunjungi berbagai tempat di empat benua di dunia. Impian saya selanjutnya adalah mengunjungi Afrika dan mempelajari budaya riset dan inovasi di sana,” harapnya.

Google Glass / Foto: Sadikin Gani

Google Glass / Foto: Sadikin Gani

Sisi Humanisme

Bagi Oscar, keahlian dalam bidang digital sebaiknya dilengkapi dengan kemampuan desain dan teknis untuk membuat suatu aplikasi atau wearable device yang memberi manfaat bagi kemanusiaan. Ketika baru masuk kuliah, ia dipercaya untuk berkolaborasi dengan Google dalam mengembangkan perangkat kacamata masa depan Google Glass. Oscar bersama tim mahasiswa UGM mencetuskan sebuah aplikasi bernama Quick Disaster yang dapat memberikan informasi mengenai bencana bagi pemakai Google Glass secara real live di depan mata.

Membutuhkan waktu sekitar 4 bulan untuk melakukan riset dan pengembangan aplikasi tersebut sampai akhirnya dapat diterapkan pada Google Glass. “Google Glass dan aplikasi Quick Disaster merupakan wearable device yang diciptakan untuk masa depan, future technology, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana,” papar Oscar yang berkat aplikasi tersebut berhasil memenangkan Global Award di London tahun lalu. Ia memprediksi perangkat tersebut akan digunakan secara masif di Indonesia 20 tahun mendatang. Seperti halnya teknologi telepon genggam yang telah dikembangkan pada era 80-an, kemudian menjangkau masyarakat luas pada era milenium ke-2.

Oscar dan tim juga mengembangkan integrated wearable device untuk mitigasi bencana secara real live yang digunakan petugas pemadam kebakaran di Amerika Serikat. Fitur tersebut mengarahkannya dinobatkan sebagai pemenang Best Public Safety App di California tahun 2014 silam. Bagi Oscar, pengembangan teknologi digital yang konsisten dilakukannya juga demi menambah daya saing Indonesia di level dunia.

Bukan hanya itu, sebelumnya Oscar berhasil mengembangkan aplikasi real-time mapping terhadap wabah penyakit yang mendapat penghargaan Aplikasi Kesehatan Terbaik dari Kementerian Komunikasi dan Informasi. Secara sukarela, ia kerapkali melakukan supervisi digital mapping terhadap bencana alam di Indonesia. Bahkan, dari sekadar iseng mengisi waktu luang, ia berhasil membuat aplikasi domestic real-time mapping terhadap tingkat kebahagiaan penduduk Jakarta berbasiskan emotikon ”happy” yang terunggah di sebuah media sosial populer.

Minat Oscar pada teknologi digital pun merambah pada bidang fotografi. Begitu banyak penghargaan fotografi yang telah ia peroleh, baik tingkat lokal maupun nasional. Awalnya ia hanya menikmati fotografi pariwisata, hingga ia ditunjuk menjadi fotografer untuk event internasional di Perancis, Italia, dan Belanda. “Bisa dibilang, saya menang kompetisi fotografi hampir setiap bulan, dan hasil dari fotografi menjadi uang saku saat saya SMA sampai kuliah,” tutur Oscar yang telah memenangkan sekitar 15 lomba fotografi.

Saat ini, Oscar berniat menempuh pendidikan S2 di bidang antropologi atau pengembangan masyarakat. Ia punya mimpi mendirikan perusahaan seperti Stark Industries. Sebuah perusahan teknologi dalam film Iron Man, yang melakukan pengembangan teknologi demi kepentingan masyarakat dan menciptakan efisiensi di berbagai sektor, termasuk teknologi infrastruktur. “Bagi saya, ini bukan mengenai award, tapi bagaimana inovasi yang saya buat bisa berguna bagi masyarakat,” ungkapnya penuh harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in The Rising Star

House of Harlow 1960