Connect
To Top

Crowdfunding: Konsep Lama, Istilah Baru

Urung rembug dana, mulai untuk pembiayaan usaha, bikin film, hingga sekadar aksi sosial.

“How would you guys feel about buying a record we haven’t made yet – because if you did we’d be really grateful,” tulis Steve Hogart, vokalis band rock Inggris, Marillon dalam sebuah email pendek kepada para penggemarnya. Email yang dikirim tahun 1997 itu menuai respon luar biasa dalam waktu singkat. Band Marillon berhasil mengumpulkan dana kolektif via media online sebanyak 60 ribu dolar AS untuk membuat album baru mereka. Penggalangan dana dari masyarakat untuk suatu kegiatan ini dikenal dengan istilah crowdfunding. Sistem pengalangan dana ini bisa dibilang konsep klasik yang masih diterapkan untuk memutar roda ekonomi hingga saat ini. Hanya saja, bentuknya terus berkembang kian dinamis.

Evolusi Dana Patungan

Sebenarnya, crowdfunding tidaklah murni berasal dari pengembangan penggalangan dana. Crowdfunding merupakan evolusi dari pendanaan model microfinance dan microcredit. Berawal pada tahun 1700, penulis asal Irlandia Jonathan Swift memberikan pinjaman kepada keluarga miskin di sebuah desa di Irlandia untuk membuat usaha kecil. Menurut fundable.com, Swift yang juga disebut sebagai “The Father of Microcredit” mendirikan Irish Loan Fund yang pada perkembangannya memiliki ratusan program dari seluruh Irlandia untuk memberikan pinjaman usaha lunak dan kecil kepada keluarga miskin.

Di Bangladesh, Dr. Muhammad Yunus menerapkan konsep ini melalui proyek mikrofinansial bersama Grameen Bank tahun 1976. Sebagai pionir mikrofinansial modern, Dr. Yunus mengusahakan pembiayaan skala mikro untuk penduduk miskin yang tidak punya modal atau memiliki ide usaha yang terlalu kecil untuk dibiayai bank pada umumnya. Jadi, bisa dikatakan crowdfunding awalnya adalah peminjaman dana bagi mereka yang tidak memiliki modal namun di bawah bunga bank pada umumnya.

Menurut WordSpy.com, istilah crowdfunding baru digunakan secara massal di tahun 2006. Michael Sullivan lah yang pertama kali menuliskan istilah crowdfunding dalam situsnya Fundavlog.com. Istilah crowdfunding digunakan Sullivan pada era internet dimana semua orang mudah terkoneksi dan membagi pesan atau ide. Di internet muncul platform mikrofinansial pertama, yaitu Kiva pada tahun 2005 dan diikuti kemunculan situs serupa, seperti Kickstarter, Ingiegogo, Crowdcube, Seedrs, dan masih banyak lagi. Situs tersebut memungkinkan para pengusaha meminjamkan modal usaha bagi para pengusaha kecil di area atau negara berkembang di seluruh dunia.

Di Indonesia bermunculan pula situs serupa, seperti patungan.net, wujudkan.com, dan gagas.web.id. Konsep permodalan ini berkembang menjadi – yang kemudian Sullivan dan kita sebut sebagai crowdfunding. Kini, ada dua hal esensial dalam menandai konsep crowdfunding yaitu web atau situs internet dan crowd.

Dana Kreatif hingga Sosial

Teknologi internet yang makin berkembang turut memperluas fungsi crowdfunding. Bukan hanya pendanaan bagi pengusaha kecil, bahkan industri kreatif, sosial, dan politik pun telah memanfaatkan konsep crowdfunding ini.

Seperti yang telah disebutkan di atas, grup rock Marillion adalah musisi pertama yang menggunakan konsep crowdfunding untuk mewujudkan ide seni mereka. Kemudian, tahun 2003 berdiri sebuah situs pendanaan online pertama dari para fans musik bernama ArtistShare dengan tagline “Where the fans make it happen!”. Banyak musisi berbakat muncul dari ArtistShare, bahkan beberapa diantaranya ada yang memenangkan Grammy Awards. Seperti Maria Schneider yang memenangkan Grammy Awards tahun 2014. Setelah ArtistShare, situs pendanaan alternatif bagi para musisi pun bermunculan, misalnya PledgeMusic, Sell A Band, Artisteconnect, Oocto, Feed The Muse, dan TuneFund.

Selain musik, industri film juga memanfaatkan konsep crowdfunding. Misalnya film Veronica Mars yang berhasil meraih lebih dari lima juta dolar AS lewat pendanaan kolektif untuk dana pembuatan film tersebut. Di negeri kita sendiri, film Demi Ucok, melewati mekanisme crowdfunding untuk membiayai produksi film yang meraih predikat Film Terbaik Majalah Tempo tersebut. Mira Lesmana dan Riri Riza pun pernah menggunakan konsep crowdfunding untuk mendanai film Atambua 39°C tahun 2012 lalu.

Politik pun tak ketinggalan dalam mengusung konsep crowdfunding. Menurut crowdexpert.com, tahun 2008 Barrack Obama mengukir sejarah dengan menjadi presiden Afro-Amerika pertama yang menggunakan crowdfunding untuk kampanye pemilihan presiden. Melalui situsnya, Obama berhasil mengumpulkan 750 juta dolar AS, dimana 600 juta dolar AS justru berasal dari 3 juta pendonor dengan rata-rata sumbangan 86 dolar AS per orang. Empat tahun kemudian, Obama kembali menggunakan metode ini untuk pendanaan kampanye pemilihan presiden.

Kini crowdfunding tak semata demi kepentingan kelompok atau seseorang saja, namun telah meluas hingga urusan sosial dan amal. Gerakan “Koin untuk Prita” tahun 2009 lalu merupakan salah satu bentuk crowdfunding di Indonesia yang ditujukan untuk kegiatan amal. Atau “Koin untuk KPK”, yaitu gerakan pengumpulan dana oleh masyarakat untuk membangun gedung baru KPK tahun 2012. Selain momentum atau peristiwa besar yang terjadi di masyarakat, crowdfunding berbasis amal juga marak di media sosial untuk patungan dana operasi medis atau membelikan kaki atau tangan palsu bagi yang membutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

  • Nyatakan Kasih dengan Scarf

    Ada banyak cara untuk berbagi kasih dan peduli pada sesama; berbagi empati hingga dorongan semangat. Salah satunya melalui scarf.

    Sadikin GaniAugust 25, 2015
  • Bekerja Tanpa Batas

    Sistem bekerja jarak jauh seakan menjadi solusi di tengah kemacetan yang masih menguasai jalan di kota-kota besar.

    Laili DamayantiJuly 16, 2015
House of Harlow 1960