Connect
To Top

Chef AB & Barista Aga: Maskulinitas dalam Ruang Kuliner

Semakin menggeliatnya sektor kuliner di negeri ini, berdampak pada tersohornya profesi yang selama ini nyaris terlupakan: chef atau juru masak dan barista atau juru racik kopi. Meskipun profesi yang terkait urusan perut ini menuntut berkutat di “dapur” namun banyak ditekuni oleh kaum pria. Berkat bantuan media sosial yang mengangkat popularitasnya, kini kedua profesi tersebut kian diminati. Inilah dua figur yang kini populer lantaran profesinya sebagai chef dan barista. Kiprah keduanya turut meramaikan kancah kuliner di tanah air.

Adrian Aryo Bismo

Di tangan chef berusia 21 tahun ini, memasak bagai seni yang tinggi. Rutinitas mengunggah foto makanan hasil kreasinya di instagram berhasil menyedot 17,5 ribu pengikut. Sontak, nama Chef AB, sapaan akrabnya, semakin dikenal. Usia memang masih belia, namun pengalamannya tak perlu diragukan lagi. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah menjuarai kompetisi memasak yang berhasil dipertahankannya selama empat tahun berturut-turut. Ketika kelas 3 SMA, ia dipercaya untuk bekerja di suatu restoran ternama di Jakarta.

Selama menempuh pendidikan diploma Tata Boga di Sunrice Global Chef Academy, Singapura, ia memperkaya pengalaman di sejumlah restoran setempat, antara lain Hotel Mandarin Oriental, Burlamacco Restorante, dan TCC (The Connoisseur Concerto). Kini, anggota World Chef Association ini menjalani aktivitasnya mengelola healthy fast food Good Fellas dan layanan private dining Portie Catering Co. yang didirikannya, serta menjadi konsultan restoran.

Alasan memilih profesi sebagai chef?

Karena suka makan enak, jadi mau bikin makanan yang lebih enak lagi.

Menjadi chef memang cita-cita Anda?

Ya, dari kelas 5 SD saya sudah bercita-cita jadi chef.

Spesialisasi masakan yang Anda pilih?

Modernist and avant garde cuisine.

Hal paling menyenangkan sebagai chef?

Bebas berkreasi dan setiap hari saya bisa masak, doing what I love the most.

Sebaliknya, hal paling menyebalkan?

Nggak punya banyak waktu untuk personal dan social life.

Keahlian yang wajib dimiliki chef?

Appreciate time, temperature (people and food), and organize. Being a chef is more than cooking.

Tantangan menjadi chef?

Harus bisa sekreatif mungkin dan punya visi dan misi yang jelas.

Peralatan paling esensial bagi chef?

Chef knife and jacket.

Berapa lama membuat suatu resep masakan?

Tergantung dari seberapa sulit dish yang akan dibuat. Bisa 1 jam, kadang bisa 1 minggu.

Jenis masakan favorit Anda?

Semua makanan yang bisa dimakan.

Di rumah suka memasak?

Suka, tapi jarang. Masak sendiri hanya saat ada acara spesial atau kalau pulang kerja lagi bad mood.

Kepuasan tertinggi sebagai chef?

Ketika melihat customer happy karena menyukai masakan saya.

Impian terbesar Anda sebagai chef?

Punya grup restoran sendiri dan semoga bisa punya restoran Michelin Star.

Sosok chef yang Anda kagumi?

Mama saya, Alain Ducasse, Jamie Oliver, dan Daniel Boulud.

Kalau tidak menjadi chef, profesi yang Anda pilih?

Nggak pernah kepikiran. Mungkin jadi arsitek.

Gaya penampilan Anda?

Classy but messy.

Identitas gaya Anda?

Kacamata.

Acuan gaya berbusana?

Tidak ada. Just being me.

Atribut favorit saat bekerja?

Kaos, chef jacket yang harus tailor made, celana •••, sepatu boots doc martens, rambut dikuncir, dan bandana.

Barang yang tidak bisa berhenti dibeli?

Sepatu. Total ada 35 pasang.

Pilih belanja online atau offline?

Offline. Karena bisa dicoba langsung.

Di luar jam kerja, aktivitas yang biasa dilakukan?

Lari, main bola, ikut entrepreneur community, atau lihat art exhibition.

Merasa bersalah ketika?

When I eat a really really good food and I eat like there’s no tomorrow.

Quote inspiratif bagi Anda?

There is no perfection, but you have to be exel all the time.

Gambaran diri Anda dalam tiga kata?

Artsy, strong, exel.

Muhammad Aga

Sebagai barista bukan hanya tuntutan perannya di film Filosofi Kopi. Begitu pula dalam keseharian, kelahiran tahun 1991 ini konsisten menekuni profesi tersebut sejak 6 tahun silam. Siapa sangka, awalnya ia adalah musisi band. Meracik kopi, baginya memiliki unsur seni tersendiri. Keahlian sebagai barista dipelajarinya secara otodidak melalui media sosial, workshop, komunitas, dan mengakses informasi dari Specialty Coffee Association of America lewat internet.

Kopi asal Indonesia yang dikenal terbaik ketiga di seluruh dunia menantang dirinya untuk lebih mendalaminya, antara lain dengan menjelajahi kebun kopi dan mengikuti berbagai kompetisi. Selain menjuarai Latte Art Throw Down Competition 2012, ia berhasil memenangkan Indonesia Barista Competition (IBC) 2013 tingkat regional, dan dinobatkan sebagai runner up IBC 2014. Setelah menuai pengalaman di berbagai tempat, akhirnya ia mewujudkan salah satu mimpinya, yakni mendirikan kedai kopi sendiri yang diberi nama Coffee Smith.

Mengapa memilih profesi sebagai barista?

Awalnya hanya mencari pekerjaan saja. Kebetulan diterima di sebuah coffee shop dan akhirnya nggak bisa lepas dari pekerjaan ini.

Menjadi barista memang cita-cita Anda?

Bukan sih. Dulu saya ingin jadi rockstar.

Spesialisasi kopi yang Anda pilih?

Black coffee. Kita bisa tahu karakter suatu kopi kalau tanpa dicampur apapun.

Hal paling menyenangkan sebagai barista?

Networking menjadi lebih luas. Senang bisa berbagi tentang kopi ke setiap orang.

Sebaliknya, hal paling menyebalkan?

Harus kalibrasi terus, kayak minum kopi tiap hari. Pernah sampai sakit malah.

Keahlian yang wajib dimiliki barista?

Komunikatif supaya bisa berkomunikasi dengan costumer, sensory atau kepekaan lidah pada rasa kopi, dan cepat serta teliti.

Tantangan menjadi barista?

Belajar sensory. Itu harus sering minum kopi agar tahu perbedaan rasa setiap jenis kopi, daerah asal kopi, dan metode seduhnya.

Peralatan paling esensial bagi barista?

Buat saya sih, grinder atau mesin penggiling kopi.

Berapa lama menciptakan suatu racikan kopi?

Kalau blend bisa sebulan lebih.

Jenis kopi favorit Anda?

Sejauh ini, kopi Arabica. Karena memiliki karakter atau rasa yang beragam, seperti fruity, flowery, dan chocolaty.

Minuman favorit Anda?

Air putih.

Kepuasan tertinggi sebagai barista?

Bisa mengikuti kejuaraan kopi dunia, dan itu masih menjadi mimpi saya.

Impian terliar yang pernah terbayangkan?

Punya kebun kopi sendiri.

Barista yang Anda kagumi?

Tim Wendelboe dan Matt Perger.

Siapa yang ingin Anda buatkan kopi?

Presiden Amerika Serikat. Biar bisa sekalian jalan-jalan ke sana ha ha ha….

Kalau tidak menjadi barista, profesi yang Anda pilih?

Mungkin tetap bermusik, jadi anak band ha ha ha….

Gaya penampilan Anda?

Kasual dengan campuran rockabilly.

Identitas gaya Anda?

Aksesori gelang, topi fedora, dan celana lipat.

Acuan dalam berbusana?

Nggak ada. Cuma sering lihat referensi di instagram.

Atribut favorit saat bekerja?

Kaos hitam, celana denim, sneakers, topi fedora, dan jam tangan.

Barang yang tidak bisa berhenti dibeli?

Sepatu Vans. Sudah ada 6 pasang.

Lebih suka belanja online atau offline?

Ke toko langsung, biar bisa coba.

Di luar jam kerja, aktivitas yang biasa dilakukan?

Paling naik gunung, traveling, atau main otomotif.

Sosok inspiratif dalam hidup Anda?

Ayah. Dia pekerja keras banget. Katanya, kalau belum jatuh, jangan pernah berhenti berusaha.

Gambaran diri Anda dalam tiga kata?

Kopi, mimpi, wanita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Portrait

  • Kunci Bahagia Oky Setiarso

    Setiap anak berhak atas kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. @kelasbelajaroky melakukan langkah-langkah kecil yang berkesinambungan untuk mewujudkannya.

    Maeya ZeeAugust 10, 2015
  • Mark Reay: Model dan Fotografer Fashion Tunawisma

    Pernahkah Anda menduga fotografer yang bekerja untuk Diane von Furstenberg (DVF), Rebeca Taylor, Calvin Klein, dan Lacoste adalah seorang tunawisma? Pernahkah...

    Sadikin GaniAugust 8, 2015
  • Dunia Style dan Travel Khairiyyah Sari

    Dibayar untuk nyinyir mengritisi penampilan orang? Profesi sebagai Konsultan Penampilan yang digelutinya memungkinkan untuk itu.

    Siti RahmahJuly 18, 2015
House of Harlow 1960