Connect
To Top

Bob, Simbol Perlawanan Perempuan

Di balik gaya rambut bob yang sederhana, ternyata punya kisah yang kompleks. Bahkan sempat disebut-sebut sebagai simbol perlawanan kaum perempuan.

Bob power! Gaya rambut bob dianggap punya kekuatan dalam menciptakan kesan aktif, kuat, tanpa meninggalkan imej feminin. Potongan rambut klasik ini terus berevolusi, seakan tak terpengaruh oleh perputaran tren rambut. Dari masa ke masa, selalu ada saja peminatnya. Bahkan dijadikan identitas bagi figur publik dari berbagai latar bidang, mulai dari hiburan sampai politik. Sebut saja Coco Chanel, Jackie O (Jacqueline Kennedy Onassis), Anna Wintour, Victoria Beckham, hingga politikus seperti Hillary Clinton.

Melawan dengan Memotong Rambut

Siapa sangka, bob punya sejarah yang panjang. Gaya rambut ini awalnya diperkenalkan oleh aktris asal Prancis, Polaire, pada era 1890-an. Kala itu, Polaire yang merintis kariernya dengan menjadi penyanyi kafe, kerapkali tampil dengan rok pendek dan rambut bob. Penampilannya tentu saja mengundang kontroversi. Di masa itu, kaum perempuan identik dengan rambut dan gaun panjang. Mengenakan rok di atas lutut dianggap sesuatu yang memalukan bagi kebanyakan perempuan. Ketika Polaire memulai debutnya sebagai penyanyi panggung di New York, penampilannya dikritisi, bahkan dijuluki “perempuan terburuk di dunia”.

Di tahun 1909, aktris Eve Lavalliere turut mempopulerkan potongan bob. Eve mendapat tawaran untuk bermain di panggung teater di Paris. Namun ia harus bersaing dengan para aktris muda. Untuk menambah percaya diri, ia meminta penata rambut ternama, Antoine de Paris untuk mengubah model rambutnya agar terlihat lebih muda. Model bob yang menjadi gaya rambut baru Eve ternyata menjadi tren dan ditiru banyak perempuan di Paris.

Kemudian, di tahun 1913, bob mulai merambah belahan Amerika. Bermula dari seorang penari terkenal di Amerika Serikat, Irene Castle. Pertunjukan tari modern yang mulai berkembang saat itu menuntutnya untuk bisa bergerak dinamis di atas panggung. Namun rambut panjangnya dianggap menyulitkan geraknya. Lantas ia memilih untuk memotong rambutnya sampai sebatas bawah telinga. Berbeda dengan gaya rambut bob sebelumnya, ia memberi sentuhan curly pada bagian bawah rambut yang dikenal dengan sebutan castle bob.

Pada Perang Dunia I, kaum perempuan menginginkan tampilan yang lebih praktis, termasuk dalam hal gaya rambut. Tak heran bila model bob semakin banyak diminati. Bahkan, ketika memasuki era 1920-an, perempuan muda semakin berani untuk buka suara. Dekade ini ditandai dengan pemberontakan dari kalangan perempuan yang menginginkan kebebasan, kemandirian, dan tak mau terikat oleh nilai-nilai sosial dan kultural yang membatasi geraknya.

Mereka bersuara bukan hanya melalui gaya pakaian yang meniru kaum laki-laki, tapi termasuk pula gaya rambut. Baju kebesaran ala Victoria pun ditanggalkan dan digantikan dengan atribut yang biasa dikenakan laki-laki yakni kemeja dan celana, dan sengaja membabat rambut panjangnya menjadi model bob yang super pendek yang disebut shingle bob. Keinginan para perempuan untuk memotong rambutnya ternyata tak bisa dipenuhi oleh salon-salon sehingga mereka memotong rambutnya di barber shop seperti yang biasa dilakukan kaum laki-laki.

Menyikapi fenomena rambut bob ini, media Saturday Evening Post terbitan 1 Mei 1920 merilis headline ‘Bernice Bobs Her Hair’ yang merupakan judul cerita pendek karya penulis F. Scott Fitzgerald. Cerita tersebut menginspirasi perempuan muda untuk beramai-ramai memangkas rambutnya.

Bahkan majalah Vogue yang menjadi acuan penampilan para perempuan, ikut menampilkan cover dengan model berambut bob. Dilaporkan pula bahwa pada masa itu, setidaknya setiap hari ada 2.000 perempuan yang memotong rambutnya menjadi bob.

Dari Selebriti Hingga Politikus

Gerakan masif tersebut diperkuat oleh inovasi Coco Chanel, desainer fenomenal asal Prancis. Demi kepraktisan dan kenyamanan, ia mendukung revolusi gaya pakaian perempuan yang mengarah pada karakter maskulin. Chanel membuat celana panjang, rok sebatas lutut, serta jas yang memang ditujukan untuk perempuan. Rancangannya mengundang kontroversi karena di era itu gaya pakaian seperti laki-laki masih tak lazim dikenakan perempuan. Busana buatan Chanel ini dipandang sebagai lambang pemberontakan dan kebebasan bagi perempuan.

Karya Chanel secara tak langsung mendukung munculnya flapper yang berarti new breed, komunitas perempuan muda yang memberontak terhadap aturan konvensional masyarakat melalui gaya hidupnya yang penuh kebebasan. Kelompok ini ingin menciptakan imej sebagai pribadi perempuan yang kuat dan mandiri. Dengan berbusana ala Chanel, potongan rambut bob, dan polesan make up yang glamor, mereka mengendarai mobil, mendatangi klub-klub malam, mendengarkan musik jazz, dan merokok sambil minum alkohol. Kemunculan ikon seperti aktris Clara Bow dan Louise Brooks turut berkontribusi merebaknya golongan flapper ini.

Di balik popularitasnya, gaya rambut bob ternyata dikecam oleh sebagian besar kalangan, mulai dari pemuka agama hingga pemimpin Inggris kala itu, Ratu Mary. Bob dinilai sebagai simbol emansipasi perempuan yang kebablasan. Sang Ratu meminta pegawai istana yang berambut bob untuk menutup kepalanya saat acara resmi. Para guru yang berambut pendek pun diperintahkan untuk memanjangkan rambutnya. Begitupula gereja-gereja mengingatkan jemaatnya bahwa perempuan yang memotong rambutnya dengan gaya bob adalah perempuan yang memalukan. Ancaman ini perlahan-lahan mulai menciutkan nyali untuk mempertahankan gaya bob.

Tahun 1929, Amerika dilanda krisis ekonomi besar-besaran akibat runtuhnya bursa Wall Street. Kondisi ini mengakibatkan kelompok flapper mulai menghilang. Gaya hidup flapper yang serba glamor dianggap tak peka dengan kondisi prihatin yang harus dihadapi banyak orang. Dampaknya, popularitas gaya rambut bob pun semakin meredup.

Setelah sempat kehilangan pamor, ketika memasuki era 60-an, bob kembali mencuat. Vidal Sassoon, penata rambut asal Inggris yang menjadi langganan selebriti kembali mempopulerkannya. Ia memodifikasi gaya bob menjadi tampilan baru dengan potongan asimetris dan istilah chic swingy bob.

Tak hanya digaungkan oleh ikon pop seperti supermodel Mary Quant, desainer Jean Muir, aktris Nancy Kwan, dan penyanyi Keely Smith saja, bahkan Jackie O., Ibu Negara Amerika saat itu, tak ketinggalan memotong pendek rambutnya. Kemudian, gaya bob seakan menjadi standar baru bagi potongan rambut ibu negara Amerika berikutnya.

Dari titik inilah terjadi pergeseran makna. Bob tak lagi sebagai simbol perlawanan perempuan, namun melambangkan kekuatan perempuan. Sehingga muncul istilah “bob power”. Gaya rambut ini pun menjadi pilihan bagi para perempuan bekerja yang ingin membentuk citra sebagai perempuan yang aktif, mandiri, dan tangguh di dunia kerja, termasuk yang bergelut di ranah politik yang didominasi kaum laki-laki.

Sejak era 60-an, bob tak berhenti muncul dengan sentuhan baru yang dipopulerkan oleh figur publik yang menjadi panutan dalam penampilan. Selain sejumlah selebriti yang setia dengan potongan bob, Anna Wintour yang merupakan Editor in Chief majalah Vogue juga tampil dengan gaya rambut ini. Dari tahun 1988, ia konsisten dengan bob sebatas pundak dan berponi hingga saat ini.

Memasuki era 90-an, penyanyi Cyndi Lauper yang nyentrik memperkenalkan bob dengan cat warna yang mencolok. Kemudian aktris Uma Thurman mempopulerkan kembali potongan bob klasik yang ikonik melalui film Pulp Fiction. Di era 2000-an, bob terus bertransformasi dan tak kehilangan popularitasnya. Deretan selebriti dengan karakter yang berbeda-beda pun menerjemahkan bob sesuai identitas dirinya, sebut saja Rihanna, Katie Holmes, Sienna Miller, Keira Knightley, dan Victoria Beckham. Bahkan Madonna yang seringkali gonta-ganti gaya rambut yang mencuri perhatian, kembali tampil dengan variasi bob yang membuatnya tampak lebih muda di usianya yang telah melewati setengah abad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Beauty

  • Cantik yang Baru

    Di tengah arus kampanye “cantik alami” yang digaungkan produk kosmetik, teknologi canggih justru semakin diandalkan untuk wujudkan cantik yang artifisial.

    Aulia FItrisariJuly 3, 2015
  • Detoks dengan Organik

    Tak sekadar aman untuk kulit, hasilnya pun lebih optimal. Saatnya beralih pada produk organik!

    Siti RahmahJune 1, 2015
House of Harlow 1960