Connect
To Top

Bekerja Tanpa Batas

Sistem bekerja jarak jauh seakan menjadi solusi di tengah kemacetan yang masih menguasai jalan di kota-kota besar.

Bayangkan bila kita harus menghabiskan waktu perjalanan lebih dari tiga jam dari tempat tinggal menuju tempat kerja. Selain menyita banyak waktu di jalan, kemacetan rentan melelahkan, bahkan membuat frustasi. Remote working atau bekerja jarak jau seakan menjawab masalah tersebut. Kini, semakin banyak profesional di kota-kota besar yang tak lagi dituntut datang ke kantor saat jam kerja.

Sistem bekerja jarak jauh ini sebenarnya telah dimulai di Amerika Serikat sejak dilanda krisis moneter sekitar tahun 2008 silam. Kala itu, banyak orang terkena PHK. Kondisi tersebut memacu orang untuk menemukan peluang baru dalam memperoleh penghasilan.

Sedangkan di Indonesia, sistem ini mulai dibangun tahun 2013. “Ini bukan soal tren tapi necessity. Ini drive dan respon dari kebutuhan para pekerja dan perusahaan. Jika di AS dipicu karena krismon, di Jakarta bisa dibilang merupakan respon kelambanan pemerintah dalam mengantisipasi pertumbuhan perekonomian. Salah satunya, tidak becus mengatasi kemacetan,” ungkap Rene Suhardono, Career Coach dan pendiri Impact Factory.

Organisasi Masa Depan

Fenomena bekerja jarak jauh terus berkembang di Indonesia yang ditandai dengan bermunculannya co-working space atau kantor nomaden. Menurut Rene, di masa depan atau yang sudah dimulai oleh negara maju seperti Amerika Serikat, akan banyak jenis usaha maupun organisasi yang tak lagi mengharuskan mereka memiliki kantor. Apalagi, mengharuskan karyawan masuk kantor setiap hari. Jawabannya adalah co-working space. “Orang bisa menyewa tempat bekerja untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan perusahaan. Di tempat tersebut, ia bisa berinteraksi dengan orang lain dan juga perusahaan lain. Tentunya berbeda dengan di rumah yang tidak bisa bertemu siapa-siapa, atau di resto yang koneksinya lambat dan ramai,” papar Rene.

Berbeda dengan service office yang telah muncul jauh sebelumnya, co-working space tidak memiliki sekat interaksi. Rene menjelaskan, “Co-working space menyediakan fasilitas yang dapat disewa per jam, per hari, bahkan per bulan. Ruangannya tidak bersekat dan tidak (selalu) privat seperti service office. Jadi, masih bisa berinteraksi dengan orang lain di ruang yang sama sehingga dapat memperluas networking.” Menurut Rene, merebaknya remote worker dan co-working spaces menandai tumbuhnya organisasi masa depan di Indonesia. “Bisa jadi, karena orang mulai percaya jika dunia akan jauh lebih intens interaksinya tanpa harus bertemu orang yang sama, bekerja di tempat (kantor) yang sama, dan melakukan pekerjaan yang sama,” ungkap Rene. Seperti yang ditulisnya melalui akun twitter @ReneCC, organisasi masa depan ditandai lima hal, yakni clear values, data and analytics driven, flat structure, dan inovation everywhere.

Saat mendirikan Comma Working Space di akhir tahun 2012 bersama 5 rekan lainnya, Rene berharap tempat ini akan menjadi sumber inspirasi bagi tumbuhnya organisasi masa depan di negeri ini. Di mana akan banyak perusahaan atau organisasi yang sangat produktif meskipun menerapkan sistem kerja yang fleksibel dan mendukung remote working. Rene menyebutkan ada sebuah perbankan nasional yang menyewakan rumah sebagai tempat bekerja agar lebih dekat diakses karyawannya. “Dunia yang kita kenal telah dan akan terus bertransformasi semakin dahsyat dengan cepat. Jumlah tenaga kerja dan aset tidak lagi jadi faktor pembeda utama tanpa didukung kreativitas dan inovasi,” ujar Rene.

Waktu yang Efisien

Munculnya sekitar 3 ribu co-working space di seluruh dunia merupakan bukti bahwa organisasi masa depan telah menjadi konsekuensi peradaban. Arus ini tak dapat dibendung lagi dalam menuntut perusahaan untuk menggeser nilai. Dari cara bekerja yang konvensional, yakni loyalitas ke kantor menjadi bentuk lain yang fleksibel. Meskipun berbagai jenis perusahaan dapat menerapkan sistem kerja ini, namun sejauh ini yang banyak memanfaatkan jasa co-working space seperti Comma, didominasi oleh pekerja perusahaan start up, freelancer, wirausahawan, dan pekerja LSM.

Kendati tak datang ke kantor bukan berarti mengurangi produktivitas dan waktu bekerja. “Waktu jangan dilihat sebagai komoditas. Bagaimana jika seseorang dapat bekerja 5 jam yang benar-benar produktif. Ini jauh lebih baik, kan, dibanding 8 atau 9 jam bekerja yang terpotong waktu perjalanan menuju tempat kerja,” kata Rene. Efisiensi waktu bekerja ini turut didukung berbagai perangkat keras dan lunak teknologi informasi. Salah satu inisiatif digital yang mempermudah remote worker adalah memanfaatkan “Slack Apps” (semacam Whatsapp). Fitur ini dapat menyempurnakan surel (surat elektronik) yang selama ini banyak digunakan sebagai media komunikasi antara pekerja nomaden dan perusahaan agar dapat berinteraksi lebih intens.

Bekerja jarak jauh bukan berarti pekerja kehilangan koneksi berharga dengan perusahaan. Target kerja pun bisa ditentukan dan diukur oleh perusahaan, termasuk penilaian kinerja karyawan. Ukuran prestasi remote worker berdasarkan value proposition dari perusahaan itu sendiri. Bukan lagi soal kuantitas pekerjaan atau jam kerja yang bisa diberikan, namun menekankan pada sesuatu yang lebih spesifik serta memperbanyak kontribusi dan inovasi terhadap perusahaan. Keahlian lain yang harus dimiliki adalah problem solving, memahami globalisasi, menguasai teknologi, mengelola informasi dan data kompleks, serta kemampuan menganalisis dan merancang strategi.

Bahkan, tingkat kebahagiaan karyawan juga dapat diukur oleh perusahaan. Dengan aplikasi online seperti Happy5.co, seluruh karyawan dapat berbagi suasana hati dan berinteraksi secara personal melalui jaringan online. “Aplikasi ini juga dapat menunjuk jelas siapa informal leader dan bisa membantu suasana bekerja. Ini semacam GPS-nya organisasi,” papar Rene.

Mengapa mengukur kebahagiaan karyawan begitu penting? Sebuah riset yang dilakukan Universitas Harvard menunjukkan, sentimen karyawan terhadap perusahaan memberikan kontribusi sangat besar terhadap produktivitas. Dengan berkurangnya frekuensi tatap muka antar karyawan, bukan berarti ikatan batin tak bisa dipelihara. Tatap muka semakin terbukti tidak berpengaruh lagi terhadap produktivitas. Kebahagiaan justru lebih penting. Dan, kebahagiaan karyawan akan memacu seseorang 3 hingga 5 kali lebih produktif dari kondisi normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Insight

  • Nyatakan Kasih dengan Scarf

    Ada banyak cara untuk berbagi kasih dan peduli pada sesama; berbagi empati hingga dorongan semangat. Salah satunya melalui scarf.

    Sadikin GaniAugust 25, 2015
  • Crowdfunding: Konsep Lama, Istilah Baru

    Urung rembug dana, mulai untuk pembiayaan usaha, bikin film, hingga sekadar aksi sosial.

    Monique SoemardiJuly 29, 2015
House of Harlow 1960