Connect
To Top

Batik Kudus di Pasar Malam

Melalui label Balijava, Denny Wirawan membuktikan kepeduliannya untuk terus menghidupkan wastra warisan leluhur. Ia kerapkali diundang untuk menampilkan koleksi Balijava di sejumlah negara dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia.

Suasana pasar malam yang digambarkan melalui wahana permainan seperti komidi putar dan bianglala menjadi latar panggung peragaan tunggal label Balijava buatan desainer Denny Wirawan. Sejak dirilis pada tahun 2008, lini busana siap pakai ini selalu menggunakan kain Nusantara dan dipasarkan secara ritel melalui jaringan sejumlah department store di Jakarta.

Melalui label Balijava, desainer kelahiran Bali tahun 1967 ini membuktikan kepeduliannya untuk turut terus menghidupkan wastra warisan leluhur. Denny kerapkali diundang untuk menampilkan koleksi Balijava di sejumlah negara, yaitu Amerika Serikat, Belanda, dan terakhir di London, dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia. Melihat konsistensinya dalam mengangkat kain Nusantara, Bakti Budaya Djarum Foundation mendukung desainer lulusan Lembaga Pendidikan Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo ini untuk mengeksplorasi keindahan batik Kudus yang semakin langka dibandingkan batik dari daerah pesisir lainnya di Pulau Jawa.

Denny Wirawan / Foto: Sadikin Gani

Denny Wirawan / Foto: Sadikin Gani

Kerumitan Batik Kudus

Sebelum dijuluki Kota Kretek, Kudus justru dikenal dengan batiknya. Batik Kudus yang disebut-sebut sebagai cikal bakal batik pesisir, mulai muncul pada abad ke-17. Memasuki tahun 1940, Kudus semakin tersohor sebagai pusat industri batik, khususnya di Kampung Langgar Dalam. Bahkan, di sana sempat didirikan Koperasi Batik Indonesia untuk memenuhi lonjakan permintaan batik dari kalangan “nyonya” dan saudagar kala itu.

Batik Kudus tak lepas dari pengaruh budaya Jawa, Arab, dan Tionghoa yang hidup di tengah masyarakat Kudus. Terlihat pada perpaduan simbol multikultural seperti motif Kaligrafi dan motif Buketan berwarna cerah yang kemudian menjadi identitas batik Pesisir. Selain itu, keunikan batik Kudus terdapat pada isen-isen (latar) yang sarat dengan motif yang padat dan rumit. Bermula dari motif Buketan berlatar Beras Kecer, kemudian dikembangkan dengan motif Buketan berlatar Biji Mentimun yang dipopulerkan oleh pembatik Lie Boen In. Pada tahun 1950-an semakin banyak bermunculan pembatik baru yang mengembangkan batik Kudus seperti Ok Hwa, Gan Tjioe Gwat, dan Oei Siok Kiem yang identik dengan motif Merak Cattleya berlatar Cengkehan.

Di akhir 1960, produksi kain batik di Kudus mengalami penurunan drastis seiring dengan maraknya industri rokok. Dengan penghasilan yang lebih besar dari membatik, banyak para pembatik yang memilih untuk beralih profesi menjadi buruh linting tembakau di pabrik-pabrik kretek. Lambat laun, batik Kudus seakan terlupakan dan berganti menyandang predikat sebagai Kota Kretek.

Sejak lima tahun belakangan, Bakti Budaya Djarum Foundation giat melakukan pembinaan serta pelatihan terhadap pembatik generasi muda untuk menghidupkan kembali industri batik di Kudus. “Kami berkomitmen membantu masyarakat Indonesia agar lebih mengenal dan mencintai budaya negerinya. Kota Kudus adalah tempat usaha kami. Budaya setempat yang bisa diangkat dan dilestarikan adalah batik Kudus yang semakin dilupakan,” papar Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian. “Tujuannya untuk menggiatkan kembali pembatik muda di Kudus yang kurang berminat menjadi pembatik dan memilih jadi buruh industri. Dengan mengaktifkan kembali industri batik di Kudus diharapkan dapat semakin memberdayakan ekonomi masyarakat Kudus. Bahkan bisa menjadi alternatif profesi bagi yang sudah tak bekerja lagi sebagai buruh industri.”

Melakukan pembinaan terhadap kalangan muda untuk meneruskan tradisi membatik tentu bukan perkara mudah. “Upah yang diterima sebagai buruh pabrik kretek lebih besar dibanding penghasilan pembatik. Kami meyakinkan bahwa penghasilan sebagai pembatik tak kalah dengan buruh pabrik kretek. Kami juga memberikan kepercayaan kepada mereka bahwa halusnya tangan dan kesabaran mereka saat melinting tembakau sama halnya dengan mencanting batik. Di tahun ketiga baru terlihat hasilnya,” ungkap Miranti Serad Ginanjar, Pembina Galeri Batik Kudus. Kini, sentra pembinaan batik Kudus yang dikelolanya telah merangkul sekitar 50 pembatik.

Denny Wirawan / Foto: Sadikin Gani

Denny Wirawan / Foto: Sadikin Gani

Kombinasi Teknik Batik dan Cetak Digital

Tari Kretek membuka peragaan tunggal Balijava yang berlangsung di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski. Denny menuangkan batik Kudus dalam 80 set busana yang terdiri dari 60 busana perempuan dan 20 busana laki-laki dalam tema “Pasar Malam”. “Pasar malam sangat Indonesia. Di pesta rakyat ini, orang-orang kumpul dengan suasana riang gembira, ada wahana permainan, dan lampu warna-warni. Sesuai dengan batik Kudus yang didominasi motif bunga dan burung yang berwarna cerah dan playful,” ujar Denny yang menyatakan pagelaran ini ditujukan untuk re-branding label Balijava agar lebih dikenal.

Keragaman motif batik Kudus yang dibuat dengan teknik tulis maupun cap disuguhkan oleh anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ini di atas runway. Tak hanya mengolah material batik dengan motif khas Kudus, seperti Buketan bunga Parijoto, Seruni, Tulip, Anggrek Cattleya berlatar Biji Mentimun, burung Merak Njraping berlatar Beras Kecer, Taman Teratai berlatar Galaran Kaligrafi Arab, dan Mbako berlatar Cengkehan, Denny mengembangkannya dengan motif dan teknik lain. “Saya tidak melulu menggunakan bahan batik from head to toe, tapi dikombinasikan dengan material digital print. Motifnya saya adaptasi dari batik Kudus, ataupun membuat corak baru yang tetap terinspirasi dari kota Kudus,” kata Peraih Penghargaan ASEAN Silk Competition 2011 di Thailand ini. Seperti motif Beras Kecer yang biasa menjadi latar, ataupun bunga Anggrek yang menjadi salah satu elemen dari Buketan, dijadikan motif tunggal. Ada pula motif baru berwarna monokrom yang diadaptasi dari hutan pinus yang banyak terdapat di Kudus.

Kombinasi dari motif batik yang klasik dan motif kontemporer dari cetak digital tersebut diaplikasikan dalam beragam tampilan. Untuk busana perempuan berupa gaun pendek hingga panjang, celana pendek, kulot, jumpsuit, rok lebar berujung sapu tangan yang dipadankan dengan blus boxy, blus tanpa lengan, blus berlengan lebar, jaket, serta cape. Sedangkan busana laki-laki didominasi celana 7/8 dipadu blus kimono, jaket, dan kurta. “Desainnya dibuat simpel tanpa detail yang rumit dan berlebihan agar lebih menonjolkan motif batiknya,” tutur desainer ini yang berharap koleksinya dapat diterima kalangan muda.

Seluruh rangkaian koleksi Batik Kudus 2015-2016 ini diperagakan dalam empat sekuen. Setiap sekuen menampilkan motif batik dengan sentuhan yang berbeda-beda. Di sekuen pertama, dihadirkan motif bunga Seruni dan Anggrek Cattleya dengan latar warna putih dan hitam, serta diselingi warna cerah seperti kuning dan fuschia. Di sekuen kedua, Denny menuangkan motif batik dalam bentuk bordir halus. Seperti bordir Merak Njarping yang menghias antara dua motif yang berbeda dalam satu tampilan, yakni Buketan dan bunga Tulip berlatar Beras Kecer. Meskipun menggunakan warna sogan yang cenderung gelap namun tetap menarik berkat dipadukan dengan tekstil jacquard, tweed, dan herringbone.

Selanjutnya, di sekuen ketiga menampilkan tabrak motif dengan ornamen bordir yang kaya dimensi. Seperti bunga Lotus berlatar Beras Kecer yang diberi bordir kerancang tiga dimensi berbentuk Anggrek Cattleya. Di sekuen terakhir dihadirkan koleksi ready to wear deluxe yang sarat dengan signature style Denny Wirawan dalam merancang, yakni embellishment. Bahan batik sutera didesain menjadi gaun yang elegan dengan sematan payet dan bebatuan yang berkilau. Ditampilkan pula ragam cape dengan aksentuasi bordir bunga Seruni di atas latar Beras Kepyar.

Denny Wirawan / Foto: Sadikin Gani

Denny Wirawan / Foto: Sadikin Gani

Untuk mempersiapkan rangkaian koleksi tersebut, Denny membutuhkan waktu pengerjaan sekitar tujuh bulan. Ia bertemu dan memberikan arahan langsung kepada para perajin batik di Kudus mengenai warna dan motif batik yang diinginkannya. Sekitar 20 rancangan dari seluruh koleksi tersebut telah diperagakan dalam ajang Indonesia Festival (Indofest) di Nottingham, London, Inggris, pada awal Juni silam.

Di era digital saat ini, mengunggah foto dan video peragaan busana ke media online merupakan salah satu bentuk publikasi yang lazim dilakukan. Namun jika kita perhatikan, tak jarang video fashion show yang diunggah di youtube, musik pengiringnya dibuat mute karena tidak menggunakan musik berizin. Menyiasati hal ini, peragaan busana “Pasar Malam” didukung oleh latar musik yang diaransemen oleh komposer ternama Yovie Widianto. Untuk mendukung rancangan yang diperagakan, Yovie mengadaptasi unsur musik tradisional yang dikolaborasikan dengan musik kontemporer.

Lihat koleksi lengkap Balijava by Denny Wirawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Runway

  • Fendi Terus Melaju dengan Fur

    Mengolah kemewahan material faux corduroy, Fendi mendandani laki-laki dengan tampilan beda.

    Christina M. AndersonAugust 28, 2015
  • Dua Sisi Perempuan dalam Busana Couture

    Untuk pertama kalinya desainer Hian Tjen menggelar fashion show tunggal. Dua hal yang membuat pagelaran ini jadi menarik. Pertama, busana yang...

    Siti RahmahAugust 22, 2015
  • Inspirasi Personal Andreas Odang

    Dalam perhelatan Unveil Wedding Exhibition yang digelar di Shangri-La Hotel, Jakarta, pada awal Juni silam, desainer Andreas Odang menampilkan rancangan busana...

    Christina M. AndersonJuly 14, 2015
House of Harlow 1960